Yogyakarta, 22 Mei 2026 — Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Arif Havas Oegroseno, S.H., LL.M., berbicara tentang diplomasi Indonesia dalam peta geopolitik global di Departemen Teknik Geodesi, Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada. Ia menyampaikan kuliah umum kepada mahasiswa sarjana, magister, dan doktor di Ruang III.4 Lantai 3 DTGD FT UGM. Kuliah ini membahas posisi Indonesia dalam dinamika politik internasional, persaingan ekonomi global, konflik antarnegara, dan perkembangan teknologi.

Kegiatan ini memberi ruang bagi mahasiswa FT UGM untuk memahami hubungan antara ilmu teknik, diplomasi, dan kepentingan nasional. Sekitar 200 peserta hadir dalam forum tersebut. Peserta berasal dari Teknik Geodesi, Teknik Fisika, Pembangunan Wilayah, serta mahasiswa internasional asal Filipina. Kehadiran lintas program studi ini menunjukkan bahwa FT UGM memperkuat pembelajaran multidisiplin yang relevan dengan tantangan global.
Dalam paparannya, Arif Havas Oegroseno menjelaskan perkembangan politik luar negeri Indonesia dari masa awal kemerdekaan, masa Perang Dingin, hingga era ketidakpastian geopolitik pasca-Perang Dingin. Ia menegaskan bahwa prinsip bebas aktif bukan berarti Indonesia tidak memiliki sikap. Prinsip itu menunjukkan bahwa Indonesia tidak berpihak pada kekuatan besar tertentu, tetapi tetap aktif membangun perdamaian dunia dan tatanan internasional yang adil.

Ia juga menjelaskan bahwa teknologi, ekonomi, energi, mineral kritis, semikonduktor, dan rantai pasok global telah menjadi instrumen strategis antarnegara. Pesan ini penting bagi FT UGM karena bidang teknik memiliki peran langsung dalam penguatan kapasitas nasional. Mahasiswa teknik perlu memahami bahwa kompetensi teknis tidak hanya digunakan untuk industri, tetapi juga untuk mendukung ketahanan negara dan posisi Indonesia di tingkat global.
Dekan FT UGM, Prof. Selo, menyampaikan bahwa diplomasi penting untuk memperkuat posisi Indonesia di dunia internasional. Ia menilai kerja sama global di bidang pendidikan, penelitian, dan teknologi membutuhkan kemampuan diplomasi yang kuat. Pernyataan ini menegaskan arah FT UGM sebagai institusi teknik yang tidak hanya menghasilkan lulusan kompeten, tetapi juga lulusan yang peka terhadap isu global.
Diskusi berlangsung aktif. Mahasiswa mengajukan pertanyaan tentang inflasi, nilai tukar rupiah, konflik internasional, strategi peningkatan kualitas STEM, serta kontribusi ilmu geodesi dan geospasial dalam diplomasi dan pengelolaan wilayah. Pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa FT UGM melihat ilmu teknik sebagai bagian dari solusi untuk isu strategis nasional.
Kuliah umum ini memperkuat posisi FT UGM sebagai ruang akademik yang menghubungkan ilmu teknik dengan diplomasi, geopolitik, energi, pangan, dan pembangunan berkelanjutan. Forum ini juga membuka peluang kolaborasi lebih lanjut antara Kementerian Luar Negeri RI dan UGM, khususnya Departemen Teknik Geodesi, dalam pengembangan sumber daya manusia dan kontribusi Indonesia di tingkat global.
sumber:
