Robotik selama ini identik dengan kecepatan tinggi, presisi ekstrem, dan struktur yang kaku serta kuat. Namun, sebuah pertanyaan menarik muncul, bagaimana jika robot justru dibuat dari material yang lembut, fleksibel, dan aman bagi manusia?
Pertanyaan inilah yang menjadi dasar berkembangnya konsep soft robotics, sebuah pendekatan baru dalam dunia robotika yang menekankan penggunaan material lunak sebagai komponen utama. Berbeda dengan robot konvensional yang menggunakan rigid joint berbahan logam, pendekatan soft robotics mengandalkan material elastis yang mampu beradaptasi dengan lingkungan dan objek di sekitarnya secara lebih natural.
Untuk menguji konsep soft robotic, Ir. Ardi Wiranata, S.T., M.Eng., Ph.D. dan timnya dari Fakultas Teknik UGM mengembangkan sebuah inovasi bernama soft adaptive gripper, yaitu tangan robotik yang terinspirasi dari cara manusia menggenggam. Teknologi ini dibangun menggunakan braided soft pneumatic actuators, di mana bagian luar actuator diperkuat oleh struktur anyaman (braided), sementara bagian dalamnya terdiri dari material lunak yang dapat berubah bentuk. Kombinasi ini menghasilkan sistem yang mampu menekuk, menyelimuti, dan menyesuaikan diri dengan bentuk objek, menjadikannya jauh lebih aman dibandingkan gripper berbahan keras seperti logam atau claw.
Mekanisme kerja dari soft pneumatic actuator memungkinkan actuator mengalami ekspansi atau kontraksi ketika udara masuk. Menariknya, sistem ini tidak memerlukan sensor kompleks untuk berfungsi secara adaptif. Cukup dengan satu actuator, robot sudah mampu melakukan proses menggenggam secara efektif.
“It’s safe, adaptive, and reliable for robotic hands, and we don’t need any sensors to do that. We just need one soft pneumatic actuator,” sebut Ir. Andi.
Pengujian yang dilakukan oleh tim Ir. Andi terhadap material ini menunjukkan hasil yang sangat mengesankan. Material ini mampu mengangkat, menahan, dan melepaskan objek tanpa meninggalkan goresan atau kerusakan apa pun. Keunggulan ini menjadikan soft adaptive gripper sebagai solusi ideal untuk menangani objek yang rapuh atau sensitif, seperti makanan atau alat medis.
Melalui material ini, robot dapat “memahami” dan menyesuaikan diri dengan lingkungan tanpa bergantung pada sensor yang kompleks. Sifat adaptif yang lahir langsung dari karakteristik material membuat sistem menjadi lebih sederhana sekaligus lebih aman dalam berinteraksi dengan manusia. Dengan pendekatan ini, soft robotics membuka peluang besar untuk diterapkan di berbagai bidang, mulai dari industri makanan, kesehatan, hingga kehidupan sehari-hari.
Artikel ini disadur dari Konten 3-Minutes Talks Youtube Resmi FT UGM