Seperti yang kita ketahui, kendaraan yang kita gunakan tentu membutuhkan jalan berlapis aspal untuk menunjang mobilitasnya. Jalan yang berlubang tentu akan mengurangi kenyamanan berkendara dan dapat menimbulkan kecelakaan yang berakibat fatal. Yuk, kenali penyebab jalanan beraspal di Indonesia dapat rusak!
Perubahan iklim Indonesia yang ekstrim seperti pola hujan yang tinggi, banjir, longsor, kenaikan muka air laut, serta tekanan termal—menuntut untuk kita dapat mengembangkan material pekerasan di bangunan infrastruktur yang lebih adaptif, antisipatif, dan berkelanjutan. Menurut caretaker Pusat Studi Transportasi dan Logistik (Pustral) UGM, Prof. Ir. Siti Malkhamah, M.Sc., Ph.D, mengatakan bahwa ketahanan infrastruktur jalan terhadap perubahan iklim tidak lagi dipandang sebagai isu teknis semata tetapi juga sebagai bagian penting dari agenda pembangunan nasional yang berkelanjutan.
Webinar Resilient Road: Infrastructure Adaptation Against Climate Change diselenggarakan oleh Pustral UGM dengan menggandeng HK ExperTalk PT Hutama Karya (Persero). Webinar dihadiri oleh sejumlah pembicara, diantaranya diantaranya Ir. Pantja Dharma Oetojo, M.Eng.Sc., Direktur Bina Teknik dan Jembatan, Direktorat Bina Marga, Kementerian Pekerjaan Umum, Kun Hartawan Adi Satria, Plt. Direktur PT Hutama Membelin Trans Papua, dan Ir. Mukhammad Rizka Fahmi Amrozi, S.T., M.Sc., Ph.D., Tim Ahli Pustral dan Dosen Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan UGM.
Pantja Dharma Oetojo mengangkat tema Teknologi Infrastruktur Jalan Berketahanan Iklim. Ia mengatakan bahwa praktik yang telah berlangsung mengenai kerusakan pekerasan dapat dideteksi menggunakan artificial interlligence (AI). Praktik yang dapat dilakukan berupa pemantauan kondisi jalan, sistem manajemen jalan berbasis kinerja, pengunaan material pekerasan lokal untuk meningkatkan keberlanjutan, serta penerapan teknologi ramah lingkungan. Ia berhadap dengan keterpaduan infrastruktur jalan berkualitas akan membuat pekerasan lebih lama, peningkatan ketahanan terhadap dampak perubahan iklim, dan pengurangan biaya dan emisi sepanjang siklus hidup produk. “Berbagai peluang kolaborasi diharapkan juga dapat terjadi, diantaranya berupa evaluasi kinerja material, proyek percontohan integrasi digital material, serta kolaborasi dengan negara lain,” tuturnya.
Kun Hartawan Adi Satria menambahkan PT Hutama Karya dalam proyek KPBU Trans Papua Segmen Mamberamo—Elelim Papua Pegunungan telah menyiapkan resilient road sebagai tindak antisipasi iklim dengan merancang sesuai analisis hidrologi untuk memastikan ketahanan terhadap banjir, aliran deras, dan perubahan kondisi tanah akibat cuaca ekstrem. Perencanaan teknis dilakukan dengan pemutakhiran desain dengan merancang sistem drainase berkapasitas tinggi untuk mengantisipasi curah hujan ekstrem dan elevasi badan jalan untuk menghindari genangan, desain perkuatan lereng seperti soil nailing, dan geotekstik guna menjaga stabilitas tanah, serta penentuan trase berdasarkan analisis geoteknik dan hidrologi.
Mukhammad Rizka Fahmi Amrozi mengungkapkan infrastuktur tangguh (resilient infrastructure) dibangun dengan prinsip-prinsip inti kekokohan yaitu kekuatan fisik dan integritas struktural infrastruktur untuk menahan tekanan dan guncangan tanpa kehilangan fungsi yang signifikan. Resilient infrastructure memastikan sistem dapat bertahan dan pulih dari gangguan dengan tetap melayanin masyarakat secara efektif. (Humas FT: Haniifah Multivana)