Tim Studio Tolak Angin FT UGM berhasil meraih Juara 1 dalam ajang Sayembara Arsitektur Nasional PERSPEKTIF 2026 yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Arsitektur Vastu Mandala Universitas Mataram pada 30 April 2026 di Universitas Mataram.
Tim yang beranggotakan Athaya Septiana Maharani dan Yudha Dwi Anggara sukses memikat dewan juri melalui karya inovatif berjudul “sekolah-LAH!”, sebuah konsep sekolah rakyat adaptif banjir yang menggabungkan ketahanan bencana, efisiensi konstruksi, dan keberlanjutan lingkungan.
Dalam kompetisi arsitektur tingkat nasional tersebut, Studio Tolak Angin menghadirkan gagasan sekolah yang tidak hanya berfungsi sebagai ruang pendidikan, tetapi juga sebagai infrastruktur tangguh yang mampu beradaptasi terhadap perubahan iklim dan ancaman banjir yang semakin meningkat di Indonesia.
Konsep utama yang diusung adalah penerapan sistem struktur adaptif, yakni bangunan yang dapat mengapung ketika banjir datang dan kembali turun saat kondisi kering. Pendekatan ini memungkinkan bangunan tetap aman dan fungsional tanpa harus kehilangan keterhubungannya dengan lingkungan sekitar.
Selain itu, desain sekolah-LAH! juga menonjolkan efisiensi material dan konstruksi agar dapat diterapkan secara realistis pada kawasan rawan bencana dengan sumber daya terbatas. Tim merancang bangunan yang fleksibel, mudah dirawat, dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat dalam jangka panjang.
Tidak hanya berfokus pada struktur bangunan, Studio Tolak Angin juga mengintegrasikan sistem pengelolaan air berkelanjutan melalui konsep rainwater harvesting. Sistem ini memanfaatkan bioswale dan retention pond untuk mengumpulkan sekaligus mendaur ulang air hujan menjadi kebutuhan utilitas bangunan, seperti penyiraman tanaman, hidroponik, flush toilet, hingga kebutuhan kebersihan.
Salah satu elemen paling menarik dari karya ini adalah penerapan konsep multifunction floodable space. Area cekungan yang dirancang khusus mampu berubah fungsi sesuai kondisi lingkungan. Saat musim hujan, ruang tersebut menjadi tempat penampungan air untuk mengurangi risiko genangan. Namun ketika kondisi kering, area itu bertransformasi menjadi amphitheater komunal yang dapat digunakan masyarakat sebagai ruang berkumpul, belajar, hingga aktivitas sosial dan seni.
Pendekatan desain ini menunjukkan bahwa infrastruktur tahan bencana tidak harus bersifat kaku dan eksklusif, tetapi justru dapat menjadi ruang hidup yang adaptif, produktif, dan dekat dengan masyarakat.
Keberhasilan Studio Tolak Angin menjadi bukti bahwa inovasi arsitektur anak muda Indonesia semakin berkembang dalam menjawab tantangan perubahan iklim dan krisis lingkungan. Melalui karya sekolah-LAH!, mereka menawarkan perspektif baru bahwa sekolah masa depan tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga simbol ketahanan dan keberlanjutan komunitas.
“Kami berharap infrastruktur adaptif bencana dapat terus diinovasikan dan dikembangkan lebih luas di Indonesia,” ungkap tim Studio Tolak Angin.