Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan sumber daya alam, namun juga berada di wilayah dengan risiko bencana yang tinggi. Terletak di kawasan cincin api dan di atas 13 zona megathrust, Indonesia menghadapi ancaman gempa besar yang tak terelakkan. Pertanyaannya, seberapa siapkah kita menghadapi bencana tersebut?
Secara regulasi, Indonesia sebenarnya telah memiliki landasan yang kuat. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana mengamanatkan pentingnya sistem peringatan dini, pengamatan gejala bencana, hingga pengambilan keputusan saat kondisi darurat. Selain itu, Peraturan Kepala BNPB Nomor 4 Tahun 2008 juga menekankan peran strategis perguruan tinggi dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mitigasi bencana.
Menjawab tantangan tersebut, Thomas Oka Pratama, S.T., M.Eng. bersama tim dari Laboratorium Sensor dan Sistem Telekontrol, Departemen Teknik Nuklir dan Fisika, Fakultas Teknik UGM, mengembangkan sebuah inovasi bertajuk “Sistem Peringatan Dini Gempa Bumi berdasar Pengukuran Fluktuasi Konsentrasi Gas Radon.”
Inovasi ini berangkat dari fenomena ilmiah bahwa gas radon, yang merupakan hasil peluruhan uranium di dalam tanah, dapat mengalami anomali konsentrasi sebelum terjadinya gempa bumi. Tekanan yang meningkat di dalam kerak bumi menjelang gempa menyebabkan terbentuknya retakan mikro pada lapisan batuan. Retakan ini mempercepat difusi fluida dari dalam tanahsehingga gas radon dapat naik ke permukaan dalam jumlah yang tidak normal.
Fenomena tersebut kemudian Thomas dan tim manfaatkan sebagai indikator awal gempa. Sistem yang dikembangkan bekerja dengan memasang sensor atau transducer gas radon pada titik-titik tertentu, seperti sumur. Data konsentrasi radon yang terukur akan dikirim melalui mikroprosesor dan diunggah ke cloud server secara real-time. Selanjutnya, data tersebut diolah menggunakan model analisis untuk memprediksi potensi terjadinya gempa, termasuk estimasi waktu dan magnitudo.
Sistem ini Thomas sebut sebagai instalasi telemonitoring konsentrasi gas radon, yang memungkinkan pemantauan secara kontinu dan jarak jauh. Berdasarkan hasil pengembangan awal, sistem ini mampu mencapai tingkat presisi hingga 95% dalam mendeteksi indikasi gempa. Meskipun demikian, pengembangan lebih lanjut masih diperlukan, khususnya dalam meningkatkan akurasi penentuan lokasi episentrum gempa.
Kehadiran inovasi ini menjadi langkah penting dalam memperkuat sistem mitigasi bencana di Indonesia. Dengan memanfaatkan pendekatan berbasis sains dan teknologi, sistem peringatan dini tidak lagi hanya bergantung pada deteksi setelah gempa terjadi, tetapi mulai bergerak ke arah prediksi sebelum bencana berlangsung.
Artikel ini disadur dari Konten 3 Minutes Talks dalam youtube resmi FT UGM
