Suasana malam Ramadan 1447 H pada 16 Maret 2026 di Masjid Kampus Universitas Gadjah Mada menjadi ruang refleksi intelektual melalui public lecture Prof. Selo, Dekan Fakultas Teknik UGM. Dalam kuliah bertajuk “Menyambut Intelligent Age: Indonesia Emas atau Indonesia Cemas?”, ia mengajak mahasiswa meninjau kembali optimisme menuju Indonesia Emas 2045.
“Yang jadi pertanyaan apakah itu akan bisa tercapai? Mari kita berangan-angan membayangkan apa yang akan terjadi ke depan,” ujar Prof. Selo.
Menurutnya, narasi “maju, adil, dan berdaulat” justru mengindikasikan bahwa kondisi Indonesia saat ini masih belum mencapai titik tersebut. Dengan kata lain, visi besar itu merupakan pekerjaan rumah yang belum selesai.
Tantangan tidak hanya datang dari perkembangan teknologi, tetapi juga dari perilaku masyarakat di era digital. Dengan rata-rata screen time mencapai 7,6 jam per hari—yang sebagian besar dihabiskan untuk media sosial seperti Instagram, TikTok, dan Facebook—Prof. Selo memperingatkan potensi lahirnya generasi instan apabila teknologi tidak dimanfaatkan untuk pengembangan kapasitas diri.
Lebih jauh, ia menyoroti lemahnya kemandirian teknologi Indonesia serta ketimpangan sosial-ekonomi, termasuk dominasi pembangunan di Jakarta dibandingkan daerah lain. Ia juga menekankan pentingnya transisi menuju energi bersih, peningkatan jumlah tenaga teknis, serta kolaborasi global sebagai langkah strategis menghadapi era kecerdasan buatan.
