
Masih hangat dibahas 4 Februari lalu saat Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto datang ke Fakultas Teknik, hilirisasi kembali menjadi topik diskusi pada Forum Alumni Teknik Kimia UGM (Tekagama) Jumat kemarin (21/02). Pada acara bertajuk Akselerasi Hilirisasi Gas untuk Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Nasional tersebut, sejumlah narasumber kondang hadir untuk bertukar pikiran guna menyukseskan hilirisasi bangsa yang sedang gencar-gencarnya dilakukan.
Diskusi dibagi menjadi dua sesi, sesi pertama pada pukul 08.30—11.00, dilanjutkan pada pukul 13.30—15.30 untuk sesi kedua. Artinya, sebanyak 7 narasumber dan 2 moderator yang hadir pada forum kali ini juga akan dibagi menjadi dua.
Sambutan dari dua perwakilan Persatuan Insinyur Indonesia (PII), yaitu Ketua Umum PII Dr.-Ing. Ir. Ilham A. Habibie, M.B.A., IPL., dan Ketua Badan Kejuruan Kimia PII Dr. Ir. Sripeni Inten Cahyani, M.M., IPM, ASEAN Eng., menjadi pembuka acara yang diselenggarakan di Auditorium Gedung Prof. Roosseno SGLC FT UGM tersebut.
Setelah sambutan dan berbagai kegiatan seremonial, Deputi Bidang Koordinasi Energi dan Sumber Daya Mineral Elen Setiadi, S.H, M.S.E, membuka diskusi hangat dengan menyampaikan strategi negara dalam hilirisasi gas alam dan petrokimia bangsa. Menurutnya, isu transisi energi yang gencar juga menjadi tantangan negara supaya lebih bisa memanfaatkan bahan-bahan ramah lingkungan, hidrogen rendah karbon dan ammonia rendah karbon (blue ammonia) contohnya. “Dalam rangka mengembangkan blue industry, termasuk blue ammonia, Pemerintah Indonesia telah merencanakan 14 proyek pengembangan fasilitas CCS/CCUS yang direncanakan mulai beroperasi pada tahun 2030 dan tersebar di seluruh penjuru Indonesia,” ujar Elen Setiadi.

Transisi Energi dan Potensi Sirkular Ekonomi menjadi bahasan selanjutnya yang disampaikan oleh Prof. Tumiran, Manajer Engineering Research and Innovation Center (ERIC) FT UGM. Mantan Dekan Fakultas Teknik UGM tersebut menyampaikan bahwasanya peralatan baru dari sektor energi harus mampu menciptakan ekonomi baru, bukannya menciptakan pasar baru bagi produk luar. Prof. Tumiran juga menegaskan apabila sia-sia saja memakai energi baru terbarukan (EBT), jika ternyata EBT-nya impor.
Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Bidang Perindustrian Saleh Husin sebagai pembicara kedua juga menyampaikan banyak hal menarik. Salah satunya ialah bahasan tentang beberapa tantangan hilirisasi yang dialami oleh Indonesia. “Harga gas di negara kawasan, seperti Vietnam dan Thailand ada di antara 3–5 USD, sedangkan kita 6–7 USD, itupun masih di mulut tambang. Begitu sampai pengguna industri bisa di atas 9 USD, kapan industri kita bisa bersaing dengan negara-negara pesaing?” ujar Mantan Menteri Perindustrian Periode 2014—2016 tersebut. Tak hanya itu, Saleh Husin juga menyayangkan adanya peraturan yang terus berubah-ubah sehingga menyulitkan pelaku usaha.
Untuk menutup sesi pertama, Ir. Musthofa menyampaikan secara runtut mulai dari potensi gas alam di Indonesia, 5 faktor yang memengaruhi pertumbuhan industri, sampai kondisi gas alam negara dan neracanya. Menurut Komisaris PT Pupuk Kaltim tersebut, pemerintah memiliki andil besar supaya program hilirisasi bisa segera bangkit dan membantu pertumbuhan ekonomi.
Tertarik dengan bahasan Forum Tekagama? Tonton dan simak selengkapnya di sini!
Setelah ibadah salat Jumat, tepat pada pukul 13.30 WIB, Wakil Dekan Ir. Ali Awaludin yang bertugas sebagai moderator memulai diskusi sesi kedua. Setelah empat narasumber dikenalkan, bahasan hangat kembali dibuka oleh Dr. Ir. Taufiek Bawazier, M.Si sebagai pembicara pertama.
Dirjen Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil Kementerian Perindustrian tersebut langsung menyinggung pentingnya industri kimia terhadap ekonomi dan industri lain. Menurutnya, apabila industri kimia tidak bersaing, maka industri lain juga akan ikut meredup.
“Kita bayangkan industri otomotif, konstruksi, dan daily life kita semuanya membutuhkan chemical. Artinya, sektor lain akan tergantung dengan competitiveness, kecukupan, dan harga daripada yang disuplai dalam negeri (produk kimia dalam negeri). Akan tetapi masalahnya, diisi siapa? Industri dalam negeri atau luar (import)?” ujarnya.
Forum ini juga mengundang Direktur Utama PT Kilang Pertamina Internasional, yaitu Dr. Ir. Taufik Aditiyawarman, MM, PMP., IPU., sebagai pembicara pada sesi kedua. Beliau menyampaikan mengenai strategi PT Pertamina dalam kegiatan dekarbonisasi dalam mencapai Net Zero Emissions pada tahun 2030 banyak dilakukan mulai dari efisiensi produksi, produk ramah lingkungan, dan biofuel.
Setelah dua narasumber dengan background pemerintah dan praktisi, dua narasumber terakhir mempunyai latar belakang akademisi sehingga menjadi padanan yang pas untuk menutup acara hari ini. Salah satu dosen ahli petrokimia dari Prodi Teknik Kimia, yaitu Prof. Ir. Suryo Purwono, M.A.Sc., Ph.D., IPU., ASEAN.Eng., menjadi pembicara ketiga yang membahas banyak mengenai peran perguruan tinggi bagi hilirisasi.
Prof. Suryo menjelaskan bahwasanya seluruh aspek, mulai dari pemerintah sebagai regulator, praktisi, dan akademisi, bisa duduk bersama untuk membicarakan masalah gas dan petrokimia. Selanjutnya, bersama-sama merumuskan teknologi apa saja yang dibutuhkan dan harus dikembangkan untuk menopang hilirisasi gas tersebut. Kemudian, kampus bisa melakukan advokasi, pelatihan, dan pembentukan model bisnis dari teknologi yang dibutuhkan tersebut. Dalam menutup paparannya, Prof. Suryo juga menekankan bahwasanya konsorsium perguruan tinggi sangat diperlukan untuk mempercepat hilirisasi sumber daya gas.
Narasumber terakhir ialah Prof. Panut Mulyono yang juga menggunakan desain power point khas Universitas Gadjah Mada seperti Prof. Suryo Purwono. Tak hanya desain paparannya yang sama, Mantan Rektor UGM tersebut juga sepakat dengan apa yang Prof. Suryo sampaikan, yaitu para praktisi harus berkomunikasi terkait masalah yang terjadi di dunia industri ke pihak kampus sehingga kampus bisa menyesuaikan metode pembelajaran dan kurikulum. Dengan demikian, SDM lulusan kampus bisa sesuai apa yang dibutuhkan industri. (Humas FT: Taufik Rosyidi)