Adakah yang suka mengisi waktu luang dengan mengobrol bersama Artificial Intelligence (AI)? Mengetik instruksi atau biasa disebut prompt sesuai dengan keinginan kita untuk mendapatkan jawaban secara instan. Mungkin banyak dari kita yang mendapatkan bantuan dari AI untuk mencari refrensi atau sekadar membantu kita menentukan pilahan terbaik dengan menimbang berbagai kemungkinan. Tapi tahukah kamu bahwa ketergantungan terhadap AI dapat mengancam kita di masa depan?
Sharlini Eriza Putri sebagai Direktur Econexus.ai dalam Rapat Terbuka Senat HPTT Ke-80 pada 13 Februari 2026 di Auditorium Gedung SGLC lantai 3. Sharlini memberikan pidato bertemakan AI, Entropi, dan, Tantangan Peradaban. Beliau mengatakan bahwa AI yang selama ini kita gunakan menyerap banyak energi seperti air, listrik, dan mineral langka. “AI yang kita banggakan bukanlah entitas abstrak—ia adalah sistem fisik yang menyedot energi, air, dan mineral dari planet yang sama-sama kita tinggali,” ujarnya.
Sharlini menjelaskan bahaya penggunaan AI dari sudut pandang hukum kedua termodinamika bernama entropi. Entropi adalah besaran fisika yang menggambarkan tingkat ketidakteraturan atau peluang distribusi energi dalam sistem. AI adalah entitas fisik yang tunduk kepada hukum fisika termasuk entropi. AI adalah entitas entropi tinggi yang membutuhkan pasokan energi dan air yang sangat tinggi. Dan di akhir siklus hidupnya, meninggalkan limbah B3 yang tidak dapat terurai atau setidaknya memerlukan waktu yang sangat panjang untuk terurai. Bukankah sudah cukup untuk kita mengetahui bahwa curhatan singkat kita berdampak pada kelestarian alam.
Lebih lanjut lagi, Sharlini mempertanyakan “mengapa kita justru membangun ketergantungan pada entitas buatan dengan laju entropi tinggi bernama AI ini?.” Ketergantungan pada AI menghidupkan “Demon” yang membutuhkan banyak sumber daya untuk mengakses informasi. Sharlini mengajak engineer untuk membangun sistem dalam suatu limit. Engineer harus dapat mengelola kompleksitas dan variabilitas dan menciptakan sistem kontrol yang dapat diprediksi. Selain itu, engineer harus memahami bahwa satu spesiespun bukan hanya layak hidup, tapi mereka berarti dalam keberlangsungan kita. Air yang dieksploitasi secara berlebihan untuk keberlangsungan AI tidak bisa mempercepat siklusnya, sehingga bisa jadi akan menjadi kekeringan dan kesulitan mendapatkan air. Jangan sampai, di masa depan ketika kita hampir kehilangan seluruh kehidupan dan sumber daya kita, kita baru menyadari betapa tidak bijaknya kita dalam menggunakan teknologi.
“Jika kita gagal menjaga mesin negentropi bernama kehidupan, maka tidak ada kecerdasan buatan—secerdas apa pun—yang mampu menyelamatkan kita,” ucap Sharlini sebagai penutup. (Humas FT: Haniifah Multivana)