Fakultas Teknik UGM terus mendorong penerapan teknologi dalam mendukung pertanian berkelanjutan dan ketahanan pangan. Salah satunya melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan (DTSL) FT UGM Tahun 2026 bertajuk “Pemberdayaan Lahan Sawah Bermembran Berbasis Internet of Things (IoT) di Desa Berjo Kulon, Sidoluhur, Godean, Sleman.”
Pada Rabu, 7 Oktober 2026, Tim FT UGM melaksanakan kegiatan monitoring dan evaluasi (monev) program tersebut di Dusun Tanjung Pare, Desa Sidoluhur, Kecamatan Godean, Kabupaten Sleman. Kegiatan ini dipimpin oleh Prof. Fatchan Nurrochmat selaku Ketua kegiatan, bersama Tim Monev Fakultas Teknik UGM dan tim pelaksana. Program ini merupakan bentuk pendampingan kepada masyarakat dalam mengembangkan budidaya padi sawah dengan memanfaatkan teknologi Internet of Things (IoT). Teknologi tersebut digunakan untuk membantu petani memantau kondisi lahan secara lebih akurat sekaligus mendukung pengambilan keputusan berbasis data. Dalam pelaksanaannya, seluruh tahapan budidaya padi dilakukan secara berurutan, mulai dari persiapan lahan, persemaian, penanaman, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit, panen, hingga penjemuran dan penggilingan gabah.
Salah satu inovasi utama yang diterapkan adalah penggunaan sensor tanah berbasis IoT untuk memantau sejumlah parameter, antara lain kelembapan tanah (soil moisture), suhu, pH, konduktivitas listrik (EC), serta kandungan unsur hara NPK. Data yang diperoleh digunakan untuk memantau kondisi lahan secara berkala dan menjadi dasar evaluasi dalam pengembangan pertanian presisi. Penerapan IoT dalam program ini tidak semata-mata diarahkan untuk meningkatkan hasil panen dalam satu musim tanam, tetapi terutama untuk meningkatkan kualitas pemantauan kondisi lahan serta mendukung pengambilan keputusan pengelolaan air dan pemupukan secara lebih terukur.
Dekan Fakultas Teknik UGM, Prof. Sarjiya, menyampaikan bahwa penerapan teknologi IoT dalam program ini diarahkan untuk meningkatkan efisiensi penggunaan air sekaligus menguji berbagai perlakuan dalam budidaya padi. Pengabdian masyarakat ini berbasis IoT yang diterapkan untuk menjaga kelembapan tanah. Pengaturan kelembapan dapat dilakukan secara otomatis melalui IoT, disertai dengan variasi pemupukan, jelas Prof. Sarjiya.
Menurutnya, hasil awal dari perlakuan yang diterapkan menunjukkan potensi peningkatan produksi hingga sekitar 1,5 kali dibandingkan persawahan konvensional. Hasil tersebut menjadi indikasi bahwa pendekatan teknologi dapat dikembangkan lebih lanjut sebagai model pengelolaan lahan pertanian yang efisien. Prof. Sarjiya juga melihat lokasi tersebut sebagai living lab untuk mengembangkan teknologi pengelolaan air yang efisien dan dapat direplikasi pada wilayah lain yang memiliki keterbatasan sumber air.
“Ini sangat bagus untuk diterapkan dan menjadi living lab bagaimana penerapan air yang efisien. Model ini dapat diterapkan di daerah lain di Indonesia yang minim sumber air, misalnya di wilayah Gunungkidul atau Nusa Tenggara Timur,” ujarnya.
Lebih lanjut, Prof. Sarjiya menekankan pentingnya kolaborasi lintas disiplin dalam pengembangan teknologi pertanian. Fakultas Teknik dapat berkontribusi melalui aspek efisiensi air dan teknologi, sementara Fakultas Pertanian dapat memperkuat aspek agronomi, termasuk pengaruh pemupukan dan pH terhadap produktivitas tanaman.
“Harapannya kita bisa bermitra untuk mendukung kegiatan penelitian serupa pada kondisi yang berbeda, sehingga kita dapat berkontribusi meningkatkan ketahanan pangan di berbagai daerah dengan kondisi sumber air yang berbeda dan terus berlanjut di masa yang akan datang,” tambahnya.
Anggota tim pengabdian, Dr. Rachmad Jayadi, menjelaskan bahwa gagasan kegiatan ini berawal dari pengalaman pengembangan budidaya tanaman di lahan pasir pantai selatan Bantul. Di kawasan tersebut, lahan pasir dapat dimanfaatkan untuk budidaya tanaman dengan dukungan sistem irigasi menggunakan flexible pipe yang dikenal sebagai irigasi kabut. Pengalaman tersebut kemudian mendorong tim untuk mengembangkan pendekatan serupa di wilayah Godean dengan komoditas padi.
“Yang pertama ingin ditingkatkan adalah jenis tanamannya. Kalau di pantai selatan Bantul, lahan pasir masih terbatas untuk tanaman seperti cabai dan bawang merah. Tantangan yang lebih besar adalah padi. Karena itu, di sini kami mencoba mengembangkan budidaya padi,” jelasnya.
Selain jenis tanaman, sistem irigasi juga dikembangkan dari sistem manual menjadi sistem otomatis berbasis sensor. Pada sistem sebelumnya, pemberian air masih bergantung pada petani yang harus menentukan kapan pompa dinyalakan dan dimatikan.
“Di sini kita menggunakan IoT berbasis sensor untuk memantau soil moisture di petak sawah. Ketika kelembapan tanah mencapai batas tertentu, sistem akan menggerakkan sistem irigasi. Jadi ada semacam otomatisasi,” terang Dr. Rachmad.
Untuk semakin mengoptimalkan penggunaan air, bagian dasar petak sawah juga dilengkapi dengan geomembran. Lapisan tersebut berfungsi membantu mengurangi kehilangan air sehingga air irigasi dapat dimanfaatkan secara lebih optimal oleh tanaman. Menurut Dr. Rachmad, pengembangan berikutnya tidak hanya akan berfokus pada satu komoditas dan satu lokasi. Apabila memungkinkan, pada tahun berikutnya teknologi tersebut akan direplikasi ke lahan milik petani di sekitar lokasi.
“Namanya pengabdian kepada masyarakat, kalau sudah sampai dan diterapkan oleh masyarakat, artinya teknologi ini benar-benar memberikan manfaat sebagai pengabdian masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Prof. Fatchan Nurochmad menyampaikan bahwa pengembangan sistem sawah berbasis teknologi IoT ini merupakan bagian dari visi yang lebih luas untuk mengembangkan konsep Sawah Gama Plasma. Konsep tersebut dikembangkan dengan menjadikan Sawah Gama sebagai bagian inti yang dapat menjadi sumber teknologi, pengetahuan, dan pendampingan, sementara masyarakat petani di sekitar menjadi bagian plasma yang mengembangkan teknologi tersebut sesuai dengan kebutuhan dan kondisi lokal.
“Intinya seperti perkebunan inti rakyat. Ada intinya, yaitu Sawah Gama, sedangkan plasmanya adalah petani,” ungkap Prof. Fatchan.
Menurutnya, model tersebut diharapkan dapat menciptakan ekosistem pengembangan pertanian yang tidak berhenti pada satu lokasi atau satu kelompok masyarakat. Teknologi seperti geomembran, sistem irigasi, dan IoT dapat diperkenalkan kepada petani untuk kemudian dikembangkan secara mandiri sesuai dengan kondisi setempat. Model serupa juga tengah dikembangkan di wilayah Gunungkidul, termasuk di Palihan dan Grogol, dengan pendekatan yang lebih terintegrasi. Tidak hanya komoditas padi, konsep plasma ke depan juga dapat dikembangkan untuk sektor peternakan seperti kambing. Prof. Fatchan menilai keberlanjutan menjadi salah satu aspek penting dalam program pemberdayaan masyarakat, termasuk program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) yang diberikan oleh berbagai pihak.
“Program-program TJSL sering kali menghadapi tantangan keberlanjutan karena tidak ada penanggung jawab yang benar-benar aktif di lapangan. Kalau hanya berbentuk kelompok tanpa pendampingan dan sistem yang berkelanjutan, pada akhirnya bisa berhenti,” jelasnya.
Melalui konsep Sawah Gama Plasma, Fakultas Teknik UGM diharapkan dapat menjadi bagian dari sistem yang menyediakan dukungan teknologi dan pengetahuan, sementara masyarakat menjadi pelaku utama pengembangan di lapangan.
Program pemberdayaan lahan sawah bermembran berbasis IoT ini menunjukkan peran perguruan tinggi dalam menjembatani inovasi teknologi dengan kebutuhan masyarakat. Integrasi geomembran, sistem irigasi otomatis, sensor tanah, serta pengelolaan budidaya berbasis data menjadi salah satu pendekatan yang dapat dikembangkan untuk menjawab tantangan keterbatasan air dan peningkatan produktivitas pertanian. Ke depan, fakultas akan terus mendorong pengembangan dan replikasi teknologi tersebut pada wilayah dengan karakteristik yang berbeda. Kolaborasi dengan berbagai disiplin ilmu, pemerintah daerah, masyarakat, serta mitra lainnya menjadi bagian penting untuk memastikan inovasi tidak berhenti pada tahap demonstrasi, tetapi dapat memberikan manfaat nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat. Melalui pengembangan Sawah Gama Plasma, fakultas berharap teknologi yang dikembangkan di lingkungan kampus dapat tumbuh bersama masyarakat dan menjadi salah satu kontribusi perguruan tinggi dalam memperkuat ketahanan pangan Indonesia (Penulis: Aci / Editor: Acha).