Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (FT UGM) membahas transformasi kehumasan di era kecerdasan artifisial melalui Workshop PR (Public Relations) Intelligence 5.0 bertajuk “Transformasi Kehumasan Profesional melalui Media Sosial, Teknologi Informasi, dan Artificial Intelligence”. Kegiatan tersebut menghadirkan narasumber Dr. Hendi Pratama, seorang Communication Expert, Applied Linguist, dan AI-Enhanced Learning Practitioner dari PT Transformasi Pendidikan Indonesia, pada Selasa (29/9) di Auditorium SGLC FT UGM.
Dalam paparannya, Hendi menekankan bahwa fungsi kehumasan tidak hanya menjadi tanggung jawab pengelola humas. Menurutnya, setiap individu di lingkungan kampus turut membawa citra institusi melalui perilaku dan cara berkomunikasi. “Semua orang di kampus ini adalah Humas,” ujar Hendi.
Ia menjelaskan empat aspek yang perlu diperhatikan, yaitu personal branding, personal response, institutional branding, dan institutional response. Personal branding berkaitan dengan citra individu yang turut memengaruhi persepsi publik terhadap institusi. Sementara itu, personal response menuntut kemampuan mengendalikan diri ketika menghadapi teguran, keluhan, maupun provokasi. Dalam konteks institusi, persoalan yang muncul perlu ditangani melalui koordinasi dan jalur resmi agar respons yang disampaikan tetap terarah.
Memasuki konsep Humas 5.0, Hendi menjelaskan bahwa kehumasan kini tidak lagi sebatas menyampaikan informasi, tetapi juga perlu mampu mengantisipasi isu. Pemanfaatan big data dan AI dapat membantu humas membaca percakapan serta kecenderungan yang berkembang di ruang publik. “Humas harus bisa mengantisipasi isu dengan bantuan AI dan data, tetapi manusia tetap penentu,” tegasnya.
Menurut Hendi, salah satu pemanfaatan AI dalam kehumasan adalah PR intelligence dan social listening. Dengan teknologi tersebut, humas dapat memantau pemberitaan, media sosial, situs web, serta forum publik tanpa harus melakukan pemantauan secara manual. Dalam workshop tersebut, Hendi juga menunjukkan penggunaan beberapa agen AI untuk memetakan pemberitaan nasional, media lokal Yogyakarta, media resmi pendidikan dan FT UGM, hingga percakapan di media sosial dan forum publik.
Namun, Hendi mengingatkan bahwa hasil AI tidak dapat diterima begitu saja. Ia menunjukkan bagaimana AI dapat memberikan informasi yang keliru ketika digunakan tanpa verifikasi. Karena itu, kemampuan manusia untuk memeriksa, mempertanyakan, dan menilai kembali informasi tetap menjadi bagian penting dalam pemanfaatan AI untuk pekerjaan kehumasan.
Selain AI, Hendi membahas pentingnya media sosial sebagai bagian dari wajah institusi. Ia membedakan aktivitas menggunakan media sosial dengan memproduksi konten. Menurutnya, pengelola komunikasi perlu beralih dari sekadar menjadi konsumen informasi menjadi kreator yang mampu menghasilkan konten sesuai karakter dan kebutuhan audiens.
Dalam produksi konten, Hendi menekankan bahwa kualitas cerita lebih penting daripada peralatan yang mahal. Konten dapat dibuat menggunakan perangkat yang tersedia, selama memiliki pesan yang jelas dan mampu menarik perhatian audiens. Ia juga mendorong konsistensi melalui prinsip “One day, one content”. Produksi tidak harus dilakukan setiap hari karena konten dapat dibuat sekaligus dan dijadwalkan untuk dipublikasikan secara berkala.
Melalui workshop tersebut, FT UGM memperoleh perspektif mengenai perubahan peran humas di tengah perkembangan teknologi. Pemanfaatan AI, data, dan media sosial dapat memperkuat kemampuan kehumasan dalam membaca isu dan menjangkau publik, sementara pertimbangan manusia tetap diperlukan untuk memastikan informasi dan respons yang dihasilkan tepat serta sesuai dengan konteks institusi.
