Di usia 68 tahun, semangat belajar Djoko Slamet Pudjorahardjo tidak padam. Djoko merupakan periset di Pusat Riset Teknologi Akselerator (PRTA), Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN), Badan Riset dan Inovasi Nasional. Pria yang tergabung dalam Kelompok Riset Teknologi Akselerator Linier itu berhasil menyelesaikan studi Magister Teknik Fisika di Fakultas Teknik UGM melalui program Magister by Research (MBR). Djoko menyelesaikan studi saat berusia lebih dari 68 tahun. Studi magisternya diselesaikan dalam waktu 1 tahun 11 bulan 29 hari, dengan IPK 3.98. Tesisnya berjudul Analisis Desain Sumber Ion Tipe Multicusp Untuk Siklotron 30 MeV.
Keputusan untuk kembali menempuh pendidikan magister merupakan bagian dari semangat Djoko untuk selalu belajar. Selain itu juga dorongan institusi agar para periset terus menuntut ilmu. Lulusan sarjana diarahkan menempuh pendidikan magister, sementara lulusan magister didorong melanjutkan ke doktoral.
“Karena bidang pekerjaan saya berkaitan dengan teknik fisika, maka saya memilih melanjutkan studi Magister Teknik Fisika,” ujarnya.
Perjalanan studinya tidak selalu mudah. Tantangan terbesar yang dihadapi Djoko adalah perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat. Ia mengaku sempat merasa tertinggal dalam penguasaan teknologi digital dibandingkan mahasiswa yang lebih muda.
“Teknologi informasi sekarang sudah sangat maju, sehingga saya yang sudah usia lanjut kadang merasa gaptek,” ujarnya.
Belajar bersama mahasiswa lintas generasi juga menjadi pengalaman tersendiri baginya. Djoko mengaku sempat merasa minder berada di lingkungan akademik yang didominasi mahasiswa yang lebih muda. Namun, sikap hormat dan dukungan dari rekan-rekan yang lebih muda membuatnya tetap percaya diri menjalani studi.
“Mereka sangat menghormati mahasiswa senior. Kalau saya mengalami kesulitan, biasanya mereka dengan senang hati membantu,” tuturnya.
Keberhasilan menyelesaikan pendidikan magister ini tidak lepas dari dukungan keluarga, atasan, serta rekan-rekan kerja yang terus memberikan semangat selama proses studi berlangsung.
Bagi Djoko, kelulusan ini memiliki makna yang sangat mendalam. Selain menjadi pencapaian akademik pribadi, gelar magister tersebut juga menjadi hadiah istimewa menjelang masa purna tugasnya.
“Kelulusan ini merupakan hadiah besar menjelang purna tugas saya. Ini juga menjadi bukti bahwa saya telah berusaha memanfaatkan sebaik-baiknya kesempatan yang diberikan institusi untuk kuliah lagi,” ungkapnya.
Melalui pengalamannya, Djoko berpesan kepada generasi muda agar tidak pernah berhenti belajar dan terus menjaga semangat untuk meraih cita-cita. “Menuntut ilmu tidak terbatas oleh usia, selama kita masih mampu melaksanakannya,” pesannya. (PWK)