Suasana Auditorium Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (FT UGM) pada 11 Mei 2026 dipenuhi antusiasme mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu dalam acara Drive Your Future: Career Talk with Jasa Marga. Kegiatan ini menjadi ruang inspiratif bagi mahasiswa untuk mengenal lebih dekat dunia industri infrastruktur nasional, khususnya jalan, sekaligus memahami tantangan pengembangan sumber daya manusia di era transformasi digital.
Acara tersebut menghadirkan jajaran pimpinan dari PT Jasa Marga (Persero) Tbk beserta anak perusahaannya, dengan salah satu narasumber utama, Yoga Tri Anggoro, yang juga merupakan lulusan terbaik Teknik Industri FT UGM pada tahun 2004 Kehadiran Yoga menjadi daya tarik tersendiri karena ia membagikan pengalaman karier, transformasi perusahaan, hingga tantangan industri infrastruktur masa kini.
Tidak hanya dihadiri mahasiswa Fakultas Teknik, acara ini juga menarik perhatian mahasiswa dari berbagai fakultas lain seperti FEB, Hukum, FISIPOL, hingga Filsafat. Hal ini menunjukkan bahwa sektor infrastruktur saat ini tidak lagi hanya membutuhkan tenaga teknis, tetapi juga talenta multidisiplin yang mampu beradaptasi, berpikir inovatif, dan memahami dinamika bisnis serta pelayanan publik.
“Jasa Marga adalah pelopor industri jalan tol di Indonesia, berdiri sejak tahun 1978 sebagai BUMN pertama yang membangun, mengelola, dan mengeoperasikan infrastruktur jalan tol nasional,” jelas Yoga membuka pemaparannya siang itu.
Dalam pemaparannya, Yoga menjelaskan bahwa Jasa Marga memiliki total hak konsesi sepanjang 1.736 kilometer yang terdiri atas 36 ruas jalan tol. Dari jumlah tersebut, sekitar 1.294 kilometer telah beroperasi melalui 31 ruas jalan tol, sementara sisanya masih berada pada tahap konstruksi.
Seiring perkembangan industri, Jasa Marga kini juga mengembangkan inovasi berbasis teknologi dan keberlanjutan. Salah satunya diwujudkan melalui program Jasamarga Action yang menghadirkan implementasi green toll road pada beberapa ruas jalan tol.
Empat ruas jalan tol Jasa Marga bahkan telah memperoleh sertifikasi green toll road. Salah satu inovasinya adalah penerapan hybrid wind tree di ruas Probolinggo–Situbondo–Banyuwangi untuk meningkatkan efisiensi energi. Selain itu, perusahaan juga memanfaatkan solar cell untuk menangkap energi matahari sebagai bagian dari upaya mendukung transisi energi berkelanjutan.
Di bidang teknologi, Yoga menekankan pentingnya kemandirian sistem digital dalam perusahaan. Menurutnya, seluruh sistem dan aplikasi yang digunakan Jasa Marga dikembangkan secara mandiri agar perusahaan dapat terus beradaptasi dan berkembang secara berkelanjutan.
“Semua sistem dan aplikasi dibuat oleh Jasa Marga sendiri tanpa ketergantungan pihak luar supaya bisa sustain,”
Dalam acara siang itu, Yoga juga menyoroti perubahan ekspektasi pengguna jalan dari waktu ke waktu. Ia membandingkan kondisi saat ini dengan pengalaman pribadinya beberapa tahun lalu.
“Dulu 12 tahun lalu saya mudik Jakarta–Sragen 12 jam tidak pernah mengeluh. Sekarang ekspektasi masyarakat jauh lebih tinggi,” jelas Yiga
Perubahan ekspektasi tersebut mendorong Jasa Marga untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan dan pengalaman pengguna jalan. Karena itu, perusahaan kini mengusung perubahan paradigma dari infrastructure menjadi infraculture. Konsep ini menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur tidak lagi sekadar membangun konektivitas, tetapi juga membangun kepercayaan, pengalaman, dan nilai bagi masyarakat.
Di akhir sesi, Yoga menyampaikan bahwa prioritas utama Jasa Marga ke depan adalah penguatan pelayanan berbasis data dan pengalaman pelanggan. Saat ini, Jasa Marga melayani sekitar 3,5 juta pengguna setiap harinya. Namun, menurutnya, perusahaan masih menghadapi tantangan besar dalam memahami perilaku dan kebutuhan pengguna secara lebih mendalam.
Berangkat dari tantangan tersebut, berbagai inovasi digital seperti aplikasi Travoy terus dikembangkan untuk mendekatkan layanan Jasa Marga dengan masyarakat sekaligus meningkatkan kualitas pengalaman pengguna jalan tol.
Melalui acara Drive Your Future, mahasiswa tidak hanya memperoleh gambaran mengenai peluang karier di dunia infrastruktur, tetapi juga memahami bahwa masa depan pembangunan Indonesia membutuhkan kolaborasi lintas disiplin, inovasi teknologi, serta sumber daya manusia yang adaptif dan visioner.
Acara kemudian ditutup dengan sesi kuis interaktif yang semakin menambah antusiasme peserta sekaligus menjadi penutup inspiratif bagi rangkaian career talk tersebut.