Rendahnya tingkat elektrifikasi di wilayah Papua masih menjadi persoalan mendasar yang berdampak luas pada kehidupan masyarakat. Keterbatasan akses listrik tidak hanya memengaruhi aktivitas ekonomi, tetapi juga layanan kesehatan dan kualitas hidup secara umum. Realitas inilah yang mendorong Elias Kondorura Bawan menekuni bidang Teknik Elektro.
“Saat ini, tingkat elektrifikasi di wilayah Papua masih relatif rendah dan bersifat terisolasi. Kondisi ini berdampak langsung pada berbagai aspek kehidupan masyarakat, seperti ekonomi, kesehatan, dan kualitas hidup secara umum,” ujar Elias (22/1/2026).
Elias Kondorura Bawan merupakan alumni Doktor (S3) Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (FT UGM). Keputusannya kembali melanjutkan studi doktoral di UGM tidak terlepas dari pengalaman akademik sebelumnya sebagai lulusan magister di universitas yang sama. Menurutnya, UGM memiliki lingkungan akademik yang kuat dengan dosen-dosen berkaparakan jelas dan diakui secara nasional maupun internasional, khususnya di bidang teknik elektro yang menjadi salah satu bidang unggulan di Indonesia.
Topik penelitian yang diangkat Elias pada jenjang doktoral berangkat langsung dari kebutuhan nyata di Papua. Penelitiannya berfokus pada hibridisasi sistem pembangkit energi untuk wilayah pedesaan dan daerah terpencil, sebagai respons atas ketergantungan yang masih tinggi terhadap pembangkit listrik berbasis diesel.
“Selama ini, sumber energi yang paling dominan digunakan adalah pembangkit diesel. Namun, penggunaan diesel memiliki banyak keterbatasan, mulai dari harga yang mahal hingga emisi yang tinggi,” jelas Elias.
Ketergantungan terhadap diesel dinilai tidak hanya membebani biaya operasional, tetapi juga berdampak pada lingkungan. Oleh karena itu, riset yang dilakukan Elias menjadi bagian dari upaya transisi energi menuju sistem pembangkit yang lebih efisien dan berkelanjutan, sekaligus lebih sesuai dengan kondisi geografis Papua yang terpencar dan sulit dijangkau jaringan listrik konvensional.
Motivasi Elias untuk menempuh pendidikan hingga jenjang doktoral berakar kuat dari nilai-nilai yang ditanamkan keluarga sejak kecil. Orang tua, khususnya sang ibu, menanamkan keyakinan bahwa pendidikan merupakan kunci untuk berkembang dan keluar dari ketergantungan semata pada sumber daya alam.
“Dalam konteks tempat saya tumbuh dulu (Toraja), mengandalkan sawah dan ladang tidak cukup karena sifatnya statis, sementara jumlah manusia dan keturunan terus bertambah sehingga hasilnya akan terbagi dan semakin tidak mencukupi,” ungkapnya.
Selain sebagai peneliti, Elias juga merupakan mantan Dekan Fakultas Teknik di Universitas Papua. Peran tersebut menumbuhkan kesadaran reflektif dalam dirinya untuk terus meningkatkan kapasitas pribadi. Ia meyakini bahwa kualitas pendidikan yang diberikan kepada mahasiswa sangat bergantung pada kualitas pendidiknya.
“Filosofi hidup saya sederhana. Tangan tidak boleh terus menengadah tetapi harus bisa memberi. Seseorang tidak akan mampu memberi kepada orang lain jika tidak terlebih dahulu meningkatkan kapasitas dirinya. Pendidikan adalah cara untuk terus meng-upgrade diri,” tuturnya.
Selama menempuh studi di UGM, Elias menyelesaikan pendidikan doktoralnya dalam waktu sekitar tiga tahun sebelas bulan, termasuk masa perkuliahan daring pada periode pandemi. Di tengah keterbatasan jumlah dosen di kampus asal serta tanggung jawab keluarga di kampung halaman, ia berupaya menyelesaikan studi seefisien mungkin agar dapat segera kembali mengabdi.
Kepada generasi muda, Elias berpesan agar memanfaatkan setiap kesempatan yang datang. Menurutnya, kesempatan belajar, berorganisasi, dan berkompetisi hanya hadir sekali dalam momentum yang sama dan tidak pernah sepenuhnya dapat diulang.
“Jadi, bagi siapa pun yang masih berjuang, utamakan studi terlebih dahulu dan manfaatkan setiap peluang yang ada,” tutup Elias. (Humas FT: Radaeva)
Sumber: Wawancara langsung dengan Elias Kondorura Bawan