Pembangunan daerah tidak dapat dilepaskan dari peran sumber daya manusia yang unggul, berkompeten, dan memiliki kepedulian terhadap tanah kelahirannya. Semangat inilah yang mendorong Wanny Meillin Iek, alumni Magister Teknik Geomatika Universitas Gadjah Mada (UGM), untuk menempuh pendidikan lanjut sekaligus mengabdikan keilmuannya bagi pembangunan Papua.
“Saya meyakini bahwa ilmu yang saya peroleh di UGM sangat penting dan bermanfaat, tidak hanya untuk kebutuhan saat ini, tetapi juga untuk masa depan pembangunan di Papua,” ujar Wanny (22/1/2026).
Sebelumnya, Wanny menyelesaikan pendidikan Sarjana Teknik Geomatika di Namibia University of Science and Technology, Namibia, Afrika. Kesempatan melanjutkan pendidikan magister tersebut diperolehnya melalui Beasiswa LPDP jalur afirmasi putra-putri Papua, yang membuka akses bagi generasi muda Papua untuk mengembangkan kompetensi akademik dan profesionalnya.
Selain menempuh pendidikan, Wanny juga bekerja di Kantor Pertanahan Kabupaten di Provinsi Papua Barat. Pekerjaannya berkaitan langsung dengan sektor agraria, khususnya pengurusan sertifikasi tanah masyarakat. Oleh karena itu, ilmu geomatika yang dipelajarinya di UGM memiliki relevansi yang sangat tinggi dengan praktik profesional yang ia jalani.
“Dalam pekerjaan saya, proses sertifikasi tanah harus dilakukan dengan sangat teliti. Kami harus memastikan bahwa bidang tanah tidak memiliki konflik, sengketa, atau permasalahan hukum,” jelas Wanny menjelaskan alasannya memilih teknik geomatika.
Wanny menjelaskan bahwa pendaftaran tanah saat ini tidak lagi hanya berfokus pada aspek kepemilikan, tetapi juga harus selaras dengan rencana tata ruang, seperti kawasan permukiman, kawasan pelayanan publik, dan kawasan perlindungan. Ketidaksesuaian tata ruang berpotensi memicu konflik yang merugikan banyak pihak. Inilah alasan mengapa keilmuan geomatika menjadi sangat strategis dalam mendukung pembangunan berkelanjutan di Papua.
“Oleh karena itu, melalui ilmu geomatika yang saya pelajari di UGM, saya memahami bagaimana meminimalkan konflik pertanahan,” ujar Wanny.
Motivasi Wanny untuk melanjutkan pendidikan hingga jenjang magister berangkat dari realitas Papua yang masih kekurangan sumber daya manusia, khususnya tenaga ahli di bidang teknik geomatika dan geodesi. Kondisi tersebut menumbuhkan kesadaran sekaligus tanggung jawab moral dalam dirinya untuk terus mengembangkan kapasitas keilmuan demi menjawab kebutuhan daerah.
Wanny berpesan kepada para pejuang pendidikan agar tidak pernah kehilangan semangat dalam meraih pendidikan. Menurutnya, proses pendidikan tidak selalu berjalan mulus. Berbagai tantangan pasti akan ditemui, sebagaimana yang ia alami selama menempuh pendidikan magister. Namun, hal tersebut tidak seharusnya menjadi alasan untuk menyerah.
“Karena itu, tetaplah berjuang, jangan mudah putus asa, dan terus jaga semangat dalam menempuh pendidikan,” tutup Wanny dalam wawancara (22/1). (Humas FT: Radaeva Ferry)
Sumber: Wawancara langsung dengan Wanny Meillin Iek