Pionir Kesatria hari kedua pada hari Kamis (06/08/2026), mengadakan acara talk show yang mengundang Prof. Dr. Moh. Mahfud MD., S.H. sebagai pembicara dengan moderator I Made Andi Arsana, S.T., M.E., Ph.D. Prof. Dr. Moh. Mahfud MD., S.H. merupakan akademisi, pakar hukum tata negara, dan tokoh nasional Indonesia yang telah memberikan kontribusi besar dalam bidang hukum, pemerintahan, dan pendidikan tinggi. Sebagai guru besar, Mahfud MD. dikenal atas pemikirannya yang menekankan pentingnya supremasi hukum, demokrasi, dan integritas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Prof. Mahfud menyampaikan gagasan yang memotivasi mahasiswa untuk tetap berada di jalan yang benar. Mengutip perkataan Prof Sardjito, Prof. Mahfud menyampaikan bahwa setelah menempuh pendidikan di Fakultas Teknik UGM, mahasiswa harus menjadi sarjana yang sujana.Gelar sarjana mencerminkan capaian intelektual, sedangkan sujana mencerminkan kualitas karakter. Dengan demikian, kutipan ini menegaskan bahwa pendidikan tinggi seharusnya tidak hanya menghasilkan lulusan yang cerdas, tetapi juga manusia yang berakhlak, bertanggung jawab, dan mampu menggunakan ilmunya untuk membawa kebaikan bagi sesama. Sarjana yang sujana sekarang ini biasa dikenal sebagai intelektual atau cendekiawan.
Prof. Mahfud menjelaskan bahwa setiap mahasiswa diharapkan mampu menjadi cendekiawan yang memiliki hati yang mulia. Gelar sarjana yang didapatkan setelah mengenyam bangku pendidikan harus dibersamai dengan nilai pengabdian kepada masyarakat dan kepedulian dalam membangun nusa serta bangsa, itulah cendekiawan. “Sarjana itu mengandalkan otak sedangkan cendekiawan mengandalkan watak,” ringkasnya.
Prof Mahfud juga menyoroti peran kemerdekaan Indonesia yang mengantarkan rakyatnya untuk mendapatkan pendidikan hingga jenjang yang tinggi. Pada sebelum kemerdekaan, sarjana di Indonesia hanya sejumlah 117 orang sedangkan sekarang ini jumlah sarjana di Indonesia telah lebih dari 18.000 orang. Jumlah sarjana yang sudah banyak ini harus dapat menduduki jabatan penting dan mengurus negara kita sendiri. Idealisme sederhana di bangku perkuliahan harus tetap dibawa ketika berada pada posisi jabatan yang diamanahi sehingga sifat seperti inilah yang disebut sebagai sarjana yang sujana.
Lebih lanjut lagi, Prof Mahfud menyampaikan bahwa generasi muda sekarang harus dapat memiliki kemampuan berinovasi atau menambah nilai dan mengembangkan ke arah yang lebih bermanfaat lagi. Inovasi diperlukan karena tantangan dan alam selalu berubah, akan banyak yang harus dikembangkan. “Dengan inovasi kita akan menjadi maju, tetapi inovasi memerlukan hukum dan moral,” tegas Prof. Mahfud.
Pada sesi akhir talk show bersama Prof. Mahfud, terdapat sesi tanya jawab oleh Kesatria Muda. Salah satu pertanyaan yang dilontarkan kepada Prof. Mahfud adalah bagaimana pandangan dan masukan untuk generasi muda tetap menjaga idealisme yang kita punya di tengah tekanan industri yang keras pada masa ini. Prof. Mahfud menegaskan bahwa kita harus memiliki sifat yang mudah bersyukur, berbagi, intropeksi diri, dan tidak serakah untuk memperoleh apapun yang kita inginkan. Jangan sampai apa yang kita dapatkan diperoleh dari hal-hal yang tidak baik karena dapat mendatangkan hal yang tidak baik juga. (Humas FT: Haniifah Multivana)