Pergeseran sumber energi dari solar ke listrik membuat perkembangan dan penggunaan teknologi baterai meningkat drastis. Hal ini menciptakan masalah baru bagi lingkungan, yaitu meningkatnya limbah baterai yang masuk dalam kategori B3. Berangkat dari masalah ini membuat Divita Hayyu Kinanthi mencari solusi dalam proses daur ulang limbah baterai. Lulusan Program Magister Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada ini mendedikasikan research-nya dalam pemrosesan mineral dan hidrometalurgi untuk mengatasi masalah lingkungan yang cukup mendesak ini.
Menurutnya, Teknik Kimia menawarkan cara berpikir yang menyeluruh. Seorang process engineer, tidak cukup hanya memastikan suatu reaksi dapat berlangsung. Ia juga harus memahami bagaimana bahan baku diproses, komponen di dalamnya dipisahkan, produk dimurnikan, energi dimanfaatkan secara efisien, dan limbah dikelola dengan bertanggung jawab. Cara pandang tersebut semakin berkembang ketika Divita terlibat dalam penelitian pemrosesan mineral dan daur ulang baterai. Ia melihat bahwa pengolahan baterai bekas merupakan persoalan yang kompleks karena tidak cukup berhenti pada keberhasilan mengambil kembali logam-logam berharga di dalamnya.
“Dalam pengolahan baterai, logam seperti nikel tidak cukup hanya berhasil diekstraksi. Nikel tersebut perlu dipisahkan dari unsur lain, dimurnikan, kemudian diolah menjadi produk dengan komposisi dan karakteristik yang sesuai agar dapat dimanfaatkan kembali,” jelasnya. Pada penelitian Studi Kinetika Kristalisasi Nikel Sulfat Heksahidrat dengan Metode Evaporative Crystallization untuk Aplikasi Pengolahan MHP dari Baterai NMC Bekas, Divita mempelajari pengaruh kondisi operasi terhadap pembentukan dan pertumbuhan kristal. Larutan nikel sulfat artifisial digunakan sebagai sistem model untuk merepresentasikan larutan hasil pengolahan mixed hydroxide precipitate atau MHP dari baterai NMC bekas.
Divita menemukan bahwa kondisi yang menghasilkan kristal dalam jumlah paling banyak tidak selalu menjadi kondisi yang memberikan kualitas kristal terbaik. Temuan ini menunjukkan bahwa perancangan proses perlu mempertimbangkan keseimbangan antara kuantitas produk, kualitas, waktu operasi, dan kebutuhan energi. “Dalam Teknik Kimia, kita sering berhadapan dengan trade-off. Tidak selalu ada satu kondisi yang menjadi pilihan terbaik untuk seluruh parameter. Oleh karena itu, tujuan proses harus ditentukan dengan jelas, apakah lebih diarahkan pada jumlah produk, kualitas, efisiensi energi, atau kombinasi dari beberapa target tersebut,” ujarnya.
Pemrosesan material baterai penting, karena peningkatan penggunaan baterai perlu diikuti dengan pengembangan teknologi pengelolaan material setelah masa pakainya berakhir. Baterai bekas masih mengandung logam berharga seperti nikel, litium, kobalt, dan mangan yang dapat dipulihkan dan dimanfaatkan kembali. Namun, baterai bekas juga dapat menjadi persoalan lingkungan apabila tidak dikelola secara tepat.
“Transisi menuju kendaraan listrik seharusnya tidak hanya membahas peningkatan produksi kendaraan dan baterai. Kita juga perlu memikirkan sumber materialnya, efisiensi proses produksinya, dan pengelolaan baterai ketika sudah tidak digunakan. Teknik Kimia dapat berperan dalam membangun sistem pengolahan material yang lebih sirkular,” katanya.
Melalui proses daur ulang, material berharga tersebut dapat dikembalikan ke dalam rantai produksi. Tantangannya, proses pemulihan tidak hanya harus menghasilkan tingkat perolehan logam yang tinggi, tetapi juga mampu menghasilkan produk dengan kemurnian dan karakteristik sesuai kebutuhan industri.
Selama kuliah, Divita aktif melakukan penelitian di laboratorium, diskusi, terlibat dalam kelompok riset, serta pendampingan kegiatan pembelajaran. Divita berhasil menerbitkan 6 karya, mulai dari jurnal internasional, prosiding, buku dan juga paten, baik sebagai penulis pertama maupun pendamping.
Proses penelitian tidak selalu berjalan sesuai rencana adalah pengalaman berharga Divita. Misalnya data eksperimen ygn menunjukkan kecenderungan berbeda dari hipotesis, peralatan perlu dikondisikan kembali, perhitungan harus diperiksa berulang kali, dan model matematis perlu terus diperbaiki agar mampu menjelaskan fenomena yang diamati.
Penelitian yang baik tidak hanya membutuhkan kemampuan akademik, tetapi juga ketelitian, keterbukaan terhadap masukan, kemampuan berkolaborasi, dan kesediaan untuk terus memperbaiki pekerjaan.
“Dalam penelitian di lab, perubahan kecil pada kondisi operasi dapat memberikan dampak besar terhadap hasil akhir, sehingga diperlukan keuletan dan kesabaran dalam berproses untuk mencapai hasil yang diinginkan. Kedisplinan dan rasa ingin tahu juga menjadi dorongan tambahan untuk mencapai kesuksesan. ” tuturnya.
“Di FT UGM, saya belajar bahwa Teknik Kimia tidak berdiri sendiri. Penyelesaian suatu persoalan membutuhkan kolaborasi dari berbagai bidang, mulai dari rekayasa proses, material, analisis instrumen, pemodelan, hingga penerapan di industri,” katanya.
Divita ingin terus mengembangkan keahliannya dalam bidang pemrosesan material dan daur ulang baterai, dan berharap untuk terus berkontribusi pada pengembangan teknologi yang lebih efisien, berkelanjutan, dan relevan dengan kebutuhan industri. Menjadi penghubung antara penelitian, kebutuhan industri, dan penyelesaian persoalan lingkungan.
“Teknik Kimia mengajarkan saya bahwa keberhasilan sebuah produk ditentukan oleh pemahaman terhadap keseluruhan proses di baliknya. Saya ingin terus belajar dan mengembangkan penelitian agar ilmu yang saya miliki tidak berhenti sebagai hasil akademik, tetapi dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan industri,” pungkas Divita. (Divita/Rev: Purwoko)