Di sudut Desa Kendal, Kecamatan Punung, Kabupaten Pacitan, terdapat dua potensi alam yang pernah menjadi kebanggaan masyarakat, Telaga Guyang Warak dan Goa Putri. Dahulu, keduanya sempat menjadi andalan wisata Desa Kendal. Namun kini, namanya kalah bersaing dengan destinasi lain di Pacitan.
Melihat kondisi tersebut, Kevin Alfariza Akbar Nuffariq Pakpahan, mahasiswa PWK 2022, hadir melalui program kerja Kuliah Kerja Nyata (KKN) bertajuk “Perancangan Masterplan Kawasan Telaga Guyang Warak & Goa Putri.” Gagasan ini berangkat dari harapan masyarakat Desa Kendal yang ingin menghidupkan kembali potensi wisata desanya.
“Awalnya ide ini muncul dari pengurus Koperasi Merah Putih di Desa Kendal. Beliau bercerita tentang dua potensi wisata ini. Hari itu juga, kami langsung survei dadakan,” jelas Kevin (12/2/2026).
Akses Terbatas, Potensi Menyeruak
Saat pertama kali menuju Goa Putri, Kevin merasakan langsung tantangan akses yang harus dihadapi pengunjung.
“Akses ke sana harus jalan kaki sekitar 800meter dengan jalan yang super sempit dan hanya cukup untuk satu orang. Di sisi kiri jurang, sementara di sisi kanan tanaman,” tambahnya.
Pengalaman itu membuka pandangannya bahwa persoalan utama bukan terletak pada ketiadaan potensi, melainkan pada belum adanya perencanaan dan pengelolaan yang komprehensif. Padahal, Desa Kendal memiliki posisi strategis sebagai desa transit wisata di Pacitan. Letaknya dekat hotel, minimarket, dan SPBU. Sayangnya, fasilitas dasar seperti rest area, toilet umum, dan pusat kuliner belum tersedia untuk mendukung wisatawan singgah lebih lama.
Dari situlah muncul gagasan membangun kawasan wisata terintegrasi. Bukan sekadar mempercantik telaga atau goa, tetapi menciptakan ekosistem wisata yang utuh.
“Dari situ aku mulai cari ide, mau dikembangkan ke arah mana. Aku juga melihat daerah lain dengan karakter wisata serupa dan membandingkan fasilitas yang sudah ada di Kendal,” ujarnya.
Menghidupkan Legenda sebagai Identitas Kawasan
Kevin menyadari bahwa daya tarik destinasi tidak berhenti pada panorama, tetapi juga pada cerita yang hidup di baliknya. Karena itu, ia mulai berdialog dengan warga untuk menggali asal-usul Telaga Guyang Warak dan Goa Putri.
Dari penelusuran itu, ia menemukan legenda tentang warak—badak—yang konon pernah mandi di Telaga Guyang Warak. Sementara Goa Putri dikaitkan dengan kisah perjalanan Kyai Mojo yang mencari pangeran dan putri kerajaan. Cerita-cerita inilah yang kemudian ia jadikan dasar perancangan kawasan.
Dalam masterplan-nya, Kevin menghadirkan museum mini dan ruang interpretatif agar legenda tersebut tidak hanya diceritakan dari mulut ke mulut, tetapi dapat dialami langsung oleh pengunjung. Di saat yang sama, fasilitas penunjang seperti food court untuk UMKM lokal, pusat informasi wisata, area memancing lengkap dengan penyewaan alat, area istirahat, mini zoo, amphitheater pertunjukan budaya, taman bunga, serta spot foto dengan view langsung ke telaga dirancang sebagai satu kesatuan ekosistem wisata yang terintegrasi.
“Kebetulan, masyarakat Kendal itu antusias mancing,” jelas Kevin, menerangkan bagaimana kebiasaan warga menjadi salah satu pertimbangan utama dalam perencanaan. Dengan pendekatan tersebut, kawasan ini diharapkan tidak hanya menarik wisatawan, tetapi juga tumbuh bersama masyarakat setempat.
Data dan Anggaran menjadi Tantangan Utama
Dalam proses penyusunan masterplan, Kevin menghadapi tantangan besar pada ketersediaan data.
“Tantangan paling besar sebetulnya keperluan datanya,” ujar Kevin.
Meskipun sebelumnya sudah ada pemetaan oleh tim KKN lain, data tersebut masih bersifat indikatif dan terbatas pada lingkup dusun. Beruntung, ia mendapat dukungan dari rekan satu tim dari prodi Kartografi dan Penginderaan Jarak Jauh (KPJ) untuk membantu pengumpulan data primer.
Selama prosesnya, Kevin juga berkonsultasi dengan perangkat desa terkait rancangan maupun implementasi ke depannya. Meskipun ia dijawab dengan penuh antusias, perangkat desa mengakui bahwa mereka memiliki permasalahan besar pada anggaran implementasi.
“Kita terbebankan terkait pembiayaan,” ujar perangkat desa kepada tim KKN.
Kevin berharap rencana ini dapat dilanjutkan oleh KKN berikutnya dan mendapat dukungan dari pemerintah desa maupun tingkat yang lebih tinggi. Ia juga melihat peluang kolaborasi dengan pihak swasta melalui skema bagi hasil sebagai alternatif pembiayaan.
“Kalau soal wisata, sumber pembiayaan itu sebenarnya banyak. Bisa dari pihak swasta dengan cara bagi hasil,” jelasnya.
Di tengah berbagai keterbatasan, gagasan masterplan ini menjadi langkah awal untuk menghidupkan kembali Telaga Guyang Warak dan Goa Putri. Tak hanya sebagai destinasi wisata, tetapi sebagai ruang bersama yang menguatkan identitas dan kebanggaan Desa Kendal. (Humas FT: Radaeva)
Sumber: Wawancara langsung dengan Kevin Alfariza Akbar Nuffariq Pakpahan.