SLEMAN, 31 JULI 2026 – Tim Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Kolaborasi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada melaksanakan program pembuatan rumah maggot dan pendampingan pengelolaan sampah organik berbasis Black Soldier Fly (BSF) di Lapas Kelas IIB Cebongan, Sleman. Program ini diarahkan untuk membangun sistem pengelolaan sampah organik yang lebih efektif dan berkelanjutan sekaligus memberikan ruang pembelajaran keterampilan produktif bagi warga binaan.
Tahap awal program dimulai melalui kunjungan tim ke Lapas Kelas IIB Cebongan pada 25 April 2026. Kunjungan tersebut digunakan untuk berkoordinasi dengan pihak lapas, mengidentifikasi kondisi lapangan, serta memetakan kebutuhan sarana dan tahapan pendampingan yang diperlukan agar budidaya maggot dapat diterapkan sesuai dengan kondisi mitra. Untuk memperkuat rancangan kegiatan, tim mengunjungi Omah Maggot pada 15 Juni 2026. Survei ini memberikan gambaran langsung mengenai contoh fasilitas budidaya, pengelolaan siklus hidup BSF, penempatan wadah, serta alur pemanfaatan sampah organik sebagai pakan larva. Hasil pengamatan tersebut digunakan sebagai referensi dalam menyesuaikan desain sarana yang akan diterapkan di lingkungan lapas.
Tim mulai membuat wadah maggot dan rumah lalat sebagai sarana utama dalam program ini. Wadah maggot disiapkan untuk mendukung proses biokonversi sampah organik oleh larva BSF, sedangkan rumah lalat berfungsi sebagai tempat pemeliharaan lalat dewasa serta mendukung keberlanjutan siklus budidaya. Pembuatan kedua sarana tersebut menjadi langkah penting sebelum pelaksanaan pelatihan dan operasional awal bersama mitra. Setelah proses pembuatan selesai, wadah maggot dan rumah lalat dikirim ke Lapas Kelas IIB Cebongan pada 25 Juli 2026.
Pada tanggal 31 Juli 2026, Pak Nur Farid memberikan penyuluhan mengenai pemilahan dan pengelolaan sampah, salah satunya adalah limbah organik. Lapas II Sleman memiliki sampah organik harian sekitar 50kg. Sampah organik yang membusuk dalam 2 hari ini dijadikan bahan baku sebagai pakan maggot. Pak Muhammad Nur Mahmud sebagai pembudidaya maggot, menyampaikan bahwa 1 gram telur maggot mampu mengolah 6 kg sampah organik dan menghasilkan 2 kg maggot.
Kegiatan dilaksanakan oleh Tim PKM Kolaborasi Fakultas Teknik UGM yang diketuai oleh Dr. Ir. Thomas Oka Pratama, S.T., M.Eng., IPP Tim beranggotakan Ni Nyoman Nepi Marleni, S.T., M.Sc., Ph.D.; Ir. Nurul Alvia Istiqomah, S.T., M.Sc., Ph.D.; Yakub Fahim Luckyarno, S.T., M.Eng., Ph.D.; Dewi Rohmah; Vincensius Raynatan Adi Pratama; dan Brilian Ryan Sadewo, S.T., M.Eng. Kegiatan ini melibatkan Departemen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika dan Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan serta didukung oleh Grup Penelitian Inovasi Pengelolaan Sampah untuk Lingkungan Hijau dan Berkelanjutan (INSIGHT).
Pemanfaatan larva BSF dipilih karena dapat membantu mengolah sampah organik menjadi biomassa maggot dan residu organik atau kasgot yang berpotensi dimanfaatkan lebih lanjut. Melalui pendekatan ini, program diharapkan dapat mengurangi volume sampah organik di Lapas II Sleman, meningkatkan kebersihan lingkungan, serta meningkatkan pengetahuan dan keterampilan pengelola maupun warga binaan dalam menerapkan pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular yang mampu mengatasi sampah organik dan menghasilkan nilai ekonomi.
Setelah sosialisasi dan pelatihan mengenai pemilahan sampah dan budidaya maggot ini, tahapan selanjutnya akan difokuskan pada pemeriksaan dan penataan sarana, operasional awal, pencatatan data, serta pendampingan dan evaluasi secara berkala. Pendekatan partisipatif akan diterapkan agar pihak lapas dan warga binaan terlibat dalam pengoperasian fasilitas, sehingga sistem yang dibangun dapat dikelola secara konsisten dan berkembang menuju kemandirian.
Penulis: Tim PKM Kolaborasi



