Ruteng–Reo, Manggarai – Melanjutkan rangkaian kegiatan pendampingan pemulihan pascagempa Flores 2026, Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan (DTSL) Fakultas Teknik UGM kembali menerjunkan tim ke Kabupaten Manggarai untuk melakukan asesmen visual sekaligus estimasi kapasitas seismik sisa (residual seismic capacity) pada sejumlah bangunan publik yang belum pernah diperiksa secara teknis. Kegiatan berlangsung pada 11–13 September 2026, dipimpin oleh Angga Fajar Setiawan, Ph.D. bersama mahasiswa Magister Teknik Sipil yaitu Abiyudha Gani Mahendra, S.T. dan Dhifa Trisadi, S.T., bekerja sama dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Manggarai serta didukung relawan mahasiswa Universitas Katolik Indonesia (UNIKA) Santu Paulus Ruteng.
Berbeda dari pendekatan berbasis aplikasi digital yang telah diperkenalkan pada kegiatan sebelumnya, asesmen kali ini mengacu pada standar Japan Building Disaster Prevention Association (JBDPA). Metode ini mengklasifikasikan tingkat kerusakan elemen struktural secara visual dan menghitung perkiraan kapasitas lateral yang masih tersisa, sehingga pemerintah daerah dapat segera menentukan status suatu bangunan apakah masih layak digunakan, memerlukan perbaikan dan perkuatan, atau harus direkonstruksi ulang.
Pada hari pertama, tim mengawali kegiatan dengan berkoordinasi bersama Dinas PUPR untuk menetapkan prioritas bangunan publik yang akan ditinjau, lalu melakukan pemeriksaan pada beberapa kantor dinas di lingkungan Pemerintah Kabupaten Manggarai yang selama ini belum tersentuh asesmen teknis. Di setiap lokasi, tim mendampingi perwakilan dinas dengan penjelasan mengenai kondisi elemen struktur dan tingkat kelayakan bangunan. Rangkaian hari pertama ditutup dengan pembekalan materi dasar metode JBDPA bagi staf Dinas PUPR dan mahasiswa UNIKA sebagai persiapan praktik lapangan pada hari berikutnya.
Hari kedua difokuskan pada pelibatan langsung peserta. Angga Fajar Setiawan terlebih dahulu membekali mahasiswa UNIKA dan pegawai Dinas PUPR dengan pemahaman teknis mengenai cara menilai sisa kekuatan struktur bangunan pascagempa. Setelah pembekalan tersebut, tim bersama peserta melakukan asesmen bersama pada sejumlah fasilitas publik lain di Ruteng, termasuk pasar dan kantor pelayanan masyarakat. Peserta kemudian diberi kesempatan mempraktikkan sendiri metode penilaian yang telah dipelajari tanpa pendampingan langsung. Pada sore harinya, mahasiswa memaparkan hasil asesmen yang mereka kerjakan secara mandiri di hadapan tim dan Dinas PUPR, dan hasil evaluasi menunjukkan peserta telah mampu menerapkan metode tersebut dengan baik.
Memasuki hari ketiga, tim bergerak ke wilayah Reo yang berjarak lebih dekat dengan episentrum gempa sehingga mengalami tingkat kerusakan bangunan yang jauh lebih parah dibandingkan Ruteng. Di wilayah ini, asesmen dilakukan pada fasilitas pendidikan dan peribadatan, termasuk lingkungan pondok pesantren, masjid, serta beberapa sekolah tingkat menengah. Tim memberikan edukasi kepada pengurus dan tenaga pengajar mengenai bagian struktur yang berpotensi membahayakan, sekaligus memberikan rekomendasi penanganan dan memasang label hasil asesmen (stamping) sebagai penanda status kelayakan bangunan.
Melalui rangkaian kegiatan ini, tim DTSL FT UGM berharap kapasitas asesmen pascagempa di tingkat daerah dapat terus tumbuh, sehingga proses pemulihan di Kabupaten Manggarai dapat berjalan lebih cepat, terukur, dan berbasis pertimbangan teknis yang dapat dipertanggungjawabkan (Angga Fajar Setiawan).