Groningen, Belanda — Febyola Rifqy Putri Adiwijaya, mahasiswa International Undergraduate Program Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada angkatan 2023, mengikuti program pertukaran mahasiswa di University of Groningen, Belanda, selama Spring Semester pada Januari hingga Juni 2026. Melalui program tersebut, Febyola mempelajari perencanaan wilayah, pengelolaan air, ketahanan pangan, dan pemanfaatan ruang publik sekaligus memperkenalkan kebudayaan Indonesia kepada masyarakat internasional.

Selama enam bulan di Groningen, Febyola mengikuti perkuliahan reguler bersama mahasiswa Belanda dan mahasiswa internasional dari berbagai negara. Ia juga menjalani studi lapangan di Belanda dan Jerman serta terlibat dalam kegiatan kebudayaan bersama Perhimpunan Pelajar Indonesia Groningen. Pengalaman tersebut membekalinya dengan perspektif global dan praktik perencanaan berkelanjutan yang relevan untuk mendukung pembangunan wilayah di Indonesia.
Sistem pembelajaran di University of Groningen menuntut mahasiswa untuk bekerja secara mandiri, berpikir kritis, dan menyampaikan pendapat secara langsung. Diskusi berlangsung secara interaktif dengan melibatkan mahasiswa dari berbagai latar belakang akademik dan budaya.
Lingkungan pembelajaran tersebut memperluas pemahaman Febyola mengenai persoalan tata ruang kontemporer. Ia mempelajari dinamika urbanisasi, perubahan iklim, pengelolaan wilayah, dan berbagai strategi yang diterapkan negara-negara Eropa untuk menciptakan kota yang tangguh dan berkelanjutan.
Mempelajari Pengelolaan Air Berbasis Alam
Salah satu pembelajaran utama yang diperoleh Febyola ialah penerapan sistem manajemen air di Belanda. Sebagian wilayah negara tersebut berada di bawah permukaan laut sehingga pengendalian banjir menjadi bagian penting dalam kebijakan tata ruang dan pembangunan infrastruktur.
Melalui kegiatan lapangan, Febyola mempelajari perubahan paradigma pengelolaan air dari pendekatan “melawan air” menuju konsep Room for the River atau memberikan ruang bagi sungai. Pendekatan tersebut tidak hanya mengandalkan peninggian tanggul, tetapi juga menata kembali kawasan sekitar sungai agar air dapat meluap secara terkendali tanpa menimbulkan kerusakan besar.
Konsep tersebut menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur perlu menyesuaikan karakter alam. Pendekatan berbasis alam juga dapat meningkatkan ketahanan wilayah terhadap banjir, perubahan iklim, dan peningkatan debit air.
Pembelajaran itu memberikan referensi bagi pengembangan kawasan rawan banjir di Indonesia. Penerapannya tetap memerlukan penyesuaian terhadap kondisi geografis, sosial, ekonomi, dan tata kelola di setiap daerah.
Mengkaji Ketahanan Pangan di Jerman
Febyola juga mengikuti kuliah lapangan selama tiga hari di Aurich, Jerman. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa menganalisis rantai pasok pangan regional dan hubungan antara tata ruang perdesaan, kegiatan pertanian, distribusi pangan, dan kebijakan pemerintah daerah.
Studi tersebut memperlihatkan bahwa ketahanan pangan tidak hanya bergantung pada produktivitas pertanian. Ketersediaan infrastruktur, akses pasar, perlindungan lahan, jaringan distribusi, dan kebijakan tata ruang turut menentukan keberlanjutan sistem pangan.
Integrasi antara wilayah produksi dan pusat konsumsi dapat memperpendek rantai distribusi serta memperkuat perekonomian lokal. Model tersebut juga dapat membantu mengurangi emisi transportasi, menjaga keberlanjutan lahan pertanian, dan meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap gangguan pasokan pangan.
Pengalaman di Aurich memperkaya pemahaman Febyola mengenai pentingnya keterhubungan antara perencanaan wilayah dan kebijakan pangan. Pengetahuan tersebut relevan bagi Indonesia yang menghadapi tantangan alih fungsi lahan, ketimpangan distribusi, dan pertumbuhan kawasan perkotaan.
Mengenalkan Budaya Indonesia di Groningen
Selain menjalani kegiatan akademik, Febyola aktif dalam Perhimpunan Pelajar Indonesia Groningen. Ia menjadi salah satu panitia Indonesian Day 2026, kegiatan yang menghadirkan bazar kuliner dan pertunjukan seni untuk memperkenalkan budaya Indonesia kepada masyarakat Belanda dan komunitas internasional.
Febyola juga tampil membawakan Tari Asmaradana bersama tim PPI Groningen. Keterlibatan tersebut menempatkan mahasiswa Indonesia bukan hanya sebagai peserta pendidikan internasional, tetapi juga sebagai pelaku diplomasi budaya.
Pertunjukan seni dan kuliner membuka ruang interaksi antara masyarakat Indonesia dan warga negara lain. Diplomasi melalui budaya dapat membangun pemahaman, memperkuat hubungan antarmasyarakat, dan memperkenalkan keragaman Indonesia secara lebih dekat.
Peran tersebut sejalan dengan upaya internasionalisasi pendidikan tinggi. Mahasiswa membawa identitas Indonesia ke ruang global sekaligus memperoleh pemahaman yang lebih luas mengenai perbedaan budaya dan kehidupan masyarakat internasional.
Mengamati Aktivasi Ruang Publik
Febyola turut mengikuti King’s Day atau Koningsdag, perayaan hari ulang tahun Raja Belanda yang mengubah berbagai kawasan kota menjadi ruang perayaan masyarakat. Pasar bebas, pertunjukan musik jalanan, dan beragam kegiatan warga memenuhi ruang publik di Groningen.
Sebagai mahasiswa perencanaan wilayah dan kota, Febyola mengamati bagaimana ruang kota dapat digunakan secara fleksibel untuk mendukung kegiatan sosial, budaya, dan ekonomi. Tingginya partisipasi masyarakat menunjukkan bahwa ruang publik memiliki fungsi penting dalam membangun identitas dan kebersamaan warga.
Pengalaman tersebut memberikan perspektif mengenai pengelolaan ruang publik yang inklusif. Ruang kota tidak hanya berfungsi sebagai jalur pergerakan, tetapi juga sebagai tempat interaksi, ekspresi budaya, kegiatan ekonomi, dan pembentukan kohesi sosial.
Pembelajaran ini dapat menjadi referensi bagi kota-kota di Indonesia dalam merancang ruang publik yang aman, mudah diakses, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
Memperkuat Jejaring Diaspora Indonesia
Kehidupan di luar negeri juga memberikan pengalaman sosial dan personal bagi Febyola. Ia merayakan Idulfitri dan Iduladha bersama deGromiest, komunitas yang mewadahi mahasiswa serta masyarakat Muslim Indonesia di Groningen.
Kegiatan komunitas membantu mahasiswa Indonesia menjaga kebersamaan ketika berada jauh dari keluarga. Interaksi tersebut juga memperluas jejaring sosial dan memperkuat dukungan antarsesama warga Indonesia di perantauan.
Keberadaan komunitas diaspora memiliki peran penting dalam membantu mahasiswa beradaptasi dengan lingkungan baru. Dukungan sosial dapat mengurangi hambatan budaya, memperkuat rasa aman, dan membantu mahasiswa menjalani kehidupan akademik secara lebih baik.
Membandingkan Karakter Kota-Kota Eropa
Febyola memanfaatkan waktu di Eropa untuk mengunjungi sejumlah kota dan negara, antara lain Paris di Prancis, Belgia, Spanyol, Ceko, dan Wina di Austria. Perjalanan tersebut ia gunakan sebagai studi komparatif visual terhadap arsitektur, ruang publik, sistem transportasi, dan karakter tata kota.
Setiap kota menunjukkan hubungan yang berbeda antara sejarah, budaya, kebijakan, dan bentuk ruang. Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa perencanaan kota tidak dapat dilepaskan dari identitas masyarakat dan perkembangan wilayahnya.
Pengamatan lintas negara juga membantu Febyola memahami bahwa praktik perencanaan terbaik tidak dapat diterapkan secara seragam. Setiap pendekatan perlu disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat, kondisi lingkungan, kapasitas pemerintah, dan karakter lokal.
Program pertukaran mahasiswa tersebut membentuk Febyola menjadi pribadi yang lebih mandiri, adaptif, dan berwawasan global. Ia memperoleh pengetahuan akademik, pengalaman lintas budaya, serta referensi praktik internasional yang dapat dikembangkan untuk mendukung pembangunan wilayah Indonesia.
Partisipasi mahasiswa FT UGM dalam program internasional juga memperkuat kontribusi perguruan tinggi terhadap pengembangan sumber daya manusia. Pengalaman global mahasiswa diharapkan dapat menghasilkan gagasan yang lebih inovatif, inklusif, dan berkelanjutan bagi masyarakat. (Febyola Rifqy Putri Adiwijaya, Editor: Franky Argus Adiwena)

