Fakultas Teknik UGM bersama NUS Cities Singapura menyelenggarakan program International Collaborative Course (ICC) UGM x NUS bertajuk: “Future Cities: Designing Resilient, Sustainable, and Inclusive Urban Ecosystems” pada 12 s.d. 25 Juli 2025. Sebanyak 25 mahasiswa Fakultas Teknik UGM dari berbagai program studi menjadi peserta kegiatan ini.
Program kolaboratif internasional ini menawarkan eksplorasi lintas disiplin mengenai keberlanjutan dan ketahanan perkotaan. Program ini menjembatani keahlian teknis dengan dinamika perkotaan di lapangan dan mendorong pendekatan multidisipliner dalam mencari solusi kota masa depan serta membekali mahasiswa dengan wawasan dan strategi praktis untuk menghadapi tantangan perkotaan di masa depan.
Program ini diawali dengan pre-course yang akan diselenggarakan pada tanggal 9 Juli 2025 sebagai pembekalan awal bagi peserta program. Terdapat dua agenda utama pada program ini, yaitu agenda di Singapura yang dilaksanakan pada tanggal 12–19 Juli 2025, dan agenda di Indonesia yang berlangsung pada tanggal 21–25 Juli 2025. Kemudian kegiatan dilanjutkan dengan post-course yang akan dilaksanakan pada awal semester gasal 2025/2026, sebagai bagian dari tindak lanjut pembelajaran.
Selama di NUS, peserta mengikuti kelas Building Liveable and Inclusive Singapore bersama Prof Fang Chun Wah dan Assoc Prof Cheah Kok Ming; Community Building bersama Prof Jeff Hou and Larry Ng, PiD (TBC); Cultural Wisdom and Sustainability bersama Assoc Prof Johannes Widodo; Greening the City bersama Dr Terence Tan Chun Liang. Selain itu peserta juga melakukan kunjungan lapangan ke beberapa lokasi yaitu urban walk di Singapore River, Singapore City Gallery, Urban Redevelopment Authority (URA), Singapore Sustainable Gallery, Marina Barrage, HDB Living Space Gallery, Bishan – Ang Mo Kio Park dan Kampong Glam.

Taman Bishan – Ang Mo Kio (AMK) merupakan contoh utama dari infrastruktur biru-hijau (blue-green infrastructure). Pada area ini, saluran beton diubah menjadi sistem sungai yang dinaturalisasi. Kunjungan berfokus pada pengamatan tentang keberlanjutan perkotaan, ketahanan terhadap banjir, dan inovasi ruang publik. Sementara itu, Kampong Glam adalah kawasan bersejarah di Singapura, pusat budaya Melayu-Arab dengan Masjid Sultan sebagai ikonnya, hal ini menunjukkan bahwa konservasi warisan dan kehidupan modern dapat berpadu, menciptakan identitas kota yang otentik dan berkelanjutan.
Kegiatan di NUS (National University of Singapore) diakhiri dengan diskusi “Building Future Cities” dan presentasi oleh mahasiswa.
Sementara itu, di selama di UGM peserta mengikuti kegiatan di kelas dan juga di lapangan. Kegiatan kelas terdiri dari “Future Cities: Designing Resilient, Sustainable, and Inclusive Urban Ecosystems” bersama Prof. Bambang Hari Wibisono (Teknik Arsitektur dan Perencanaan); “Forest City: towards living harmony with nature” bersama Prof. Widiyatno (Fakultas Kehutanan); diskusi panel bersama Prof. Ali Awaludin, Dr. Yodi Mahendradhata, Prof. Lukito Edi Nugroho, Dr. Ikaputra terkait “Contemporary Urban Concepts” dan dilanjutkan diskusi “Innovations for future cities: smart & green technologies” bersama Dr. Ir. Ruli Andaru, Dr. Ir. Arif Kusumawanto, Dr. Ir. Sentagi Sesotya Utami.. Selain kegiatan di kelas bersama para pakar, peserta juga melaksanakan urban walk di sepanjang Sumbu Filosofi bersama Prof. Bakti Setiawan, dari Malioboro sampai dengan Taman Sari; kemudian ada kunjungan lapangan ke Merapi Area bersama Prof. Agung Harijoko dan juga belajar langsung dari petani milenial Janu Muhammad di Sayur Sleman.
Program ICC FT UGM x NUS Cities ini menjadi wujud nyata kolaborasi internasional dalam menjawab tantangan perkotaan global melalui pendekatan multidisipliner. Melalui rangkaian kegiatan di dua negara, para peserta tidak hanya memperluas wawasan akademik, tetapi juga membangun jejaring dan pengalaman lintas budaya. Diharapkan program ini dapat membekali mahasiswa dengan pemahaman yang lebih holistik serta solusi inovatif untuk mewujudkan kota yang tangguh, berkelanjutan, dan inklusif di masa depan. (Ananda K)