Masyarakat Gunungkidul, DI Yogyakarta dikejutkan dengan kemunculan dua sinkhole dalam waktu berdekatan pada awal Januari 2026. Lubang pertama muncul pada 7 Januari 2026 di area rumah warga. Selang beberapa hari kemudian, sinkhole kedua terbentuk di lahan pertanian terbuka dengan jarak sekitar 12km dari lokasi pertama.
Guru Besar Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr.Eng. Ir. Wahyu Wilopo, S.T., M.Eng., IPM., menjelaskan bahwa sinkhole merupakan runtuhan permukaan tanah secara vertikal akibat adanya rongga di bawahnya. Rongga tersebut dapat terbentuk secara alami melalui proses pelarutan batuan, maupun dipicu oleh aktivitas manusia seperti pertambangan.
“Sinkhole merupakan proses alami yang dapat dipercepat oleh aktivitas manusia dan faktor alam. Hampir semua fenomena sinkhole yang muncul dipicu oleh curah hujan yang tinggi,” jelas Prof. Wilopo (20/2).
Prof. Wilopo juga menegaskan bahwa masyarakat sebenarnya dapat mengenali gejala awal sebelum sinkhole terbentuk. Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain munculnya retakan melingkar di permukaan tanah atau batuan, dengan pola berbentuk bulat, setengah lingkaran, maupun seperempat lingkaran. Selain itu, permukaan tanah yang tampak lebih rendah dibandingkan area di sekitarnya juga menjadi indikasi penting. Kondisi ini biasanya semakin jelas terlihat saat hujan, karena air cenderung menggenang pada satu titik akibat adanya penurunan permukaan tanah tersebut.
Lebih lanjut, Prof. Wilopo pun menekankan pentingnya peningkatan kewaspadaan di tingkat masyarakat. Ronda lingkungan, terutama setelah hujan deras, dapat menjadi langkah sederhana, tetapi efektif untuk mendeteksi tanda-tanda awal sinkhole.
“Marilah selalu siaga pada lingkungan sekitar terutama saat masih musim penghujan,” pungkasnya.
Artikel ini disadur dari pemberitaan di laman resmi Universitas Gadjah Mada.