“Pelajaran paling besar yang saya dapat dari KKN (Kuliah Kerja Nyata) adalah rasa ingin bermanfaat kepada masyarakat menjadi jauh lebih tinggi,” ujar M. Arief Maulana, mahasiswa Teknik Nuklir angkatan 2022, mengenang masa pengabdiannya di Desa Posi-Posi, Kecamatan Pulau Rao, Kabupaten Pulau Morotai, Provinsi Maluku Utara (11/2/2026).
Bagi Maul, latar belakangnya sebagai mahasiswa Teknik Nuklir menjadi pintu masuk untuk menghadirkan edukasi yang relevan dengan kondisi geografis desa. Posi-Posi berada di wilayah pesisir dengan paparan sinar matahari yang intens sepanjang tahun. Masyarakat hidup berdampingan dengan radiasi matahari setiap hari—di laut, di kebun, maupun dalam aktivitas keseharian. Namun, di tengah kondisi alam tersebut, masih berkembang stigma atau diskriminasi terhadap warna kulit.
Menurut Maul, stigma atau diskriminasi tersebut bukan sekedar candaan belaka, melainkan bias rasisme yang perlu diluruskan secara ilmiah dan sosial. Berangkat dari pemahaman akademiknya, ia menjelaskan bahwa paparan sinar UV memicu peningkatan produksi melanin, pigmen alami yang berfungsi melindungi kulit. Proses tersebut adalah mekanisme biologis normal, bukan penyakit ataupun tanda ketidaksehatan.
Karena itu, edukasi yang Maul berikan kepada siswa SMA tidak hanya membahas aspek kesehatan kulit dan pencegahan paparan berlebih, tetapi juga membongkar stigma terhadap warna kulit masyarakat Indonesia Timur. “Dalam program kerja ini, saya tidak hanya menyoroti persoalan kesehatan, tetapi juga pada isu rasisme yang sering diujarkan pada orang timur,” ujarnya.
Selain edukasi radiasi matahari, Maul menilai pertandingan voli sebagai program paling berdampak. Awalnya kegiatan ini dirancang sederhana untuk siswa SMA dan masyarakat umum. Namun, antusiasme warga justru melampaui ekspektasi.
“Pada awalnya program kerja ini tidak dibuat terlalu serius, tetapi antusiasme pemuda dan masyarakat cukup tinggi,” sebut Maul.
Setiap sore pukul lima, lapangan desa kembali hidup setelah vakum selama 3-4 tahun. Bukan hanya pemuda laki-laki, tetapi juga ibu-ibu, anak-anak, bahkan orang tua ikut terlibat. Bagi Maul, dampak terbesarnya bukan terletak pada kompetisi, melainkan budaya bermain voli yang tumbuh sebelum dan sesudah program berlangsung. Voli menjadi media penyaluran energi positif sekaligus medium mempererat hubungan sosial.
“Secara pribadi, proker yang paling berdampak adalah pertandingan voli ini. Yang membuat berdampak bukan di pertandingannya, tapi pada antusiasme masyarakat yang membentuk budaya bermain sebelum dan setelah program kerja berlangsung,” tambahnya. Menurutnya, program ini menjadi jembatan yang mempertemukan mahasiswa dengan masyarakat.
Maul meyakini bahwa salah satu cara tercepat untuk dekat dengan masyarakat adalah menyamakan minat atau kesukaan. “Aku ingin menyamakan interest dengan masyarakat dalam hal yang positif. Beberapa warga lokal yang dekat dengan saya bercerita tentang ketertarikan mereka pada voli,” ujarnya.
Maul juga membagikan refleksi sederhana tentang membangun relasi sosial. “Ketika kita datang, kita tidak boleh takut untuk berkenalan atau mengetahui sesuatu. Karena masyarakat juga bisa merasa takut. Kalau sama-sama takut, tidak akan ada komunikasi. Sapa para warga duluan,” katanya.
Di akhir wawancara, Maul mengaku sempat merasa belum “cukup mengabdi”. Namun, respons masyarakat justru berbeda. Warga Desa Posi-Posi merasa telah menerima banyak manfaat dari kehadiran tim KKN.
“Di situlah saya merasa, saya ingin lebih bermanfaat lagi,” tuturnya. (Humas FT: Radaeva Errisya)
