Yogyakarta, 22 Oktober 2026 – Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (FT UGM) menerima kunjungan benchmarking dari Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) dalam rangka mempelajari pembangunan dan implementasi Zona Integritas (ZI) menuju Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) serta Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM) di lingkungan perguruan tinggi. Kegiatan ini berlangsung pada di Ruang Meeting 2, Lantai 3, Gedung Smart and Green Learning Center (SGLC), Fakultas Teknik UGM.
Kunjungan ini bertujuan untuk mempelajari praktik pembangunan dan implementasi Zona Integritas yang diterapkan di FT UGM, khususnya dalam mendukung penguatan tata kelola kelembagaan dan peningkatan kualitas pelayanan publik. Melalui kegiatan benchmarking atau studi tiru ini, PENS memperoleh kesempatan untuk menggali informasi mengenai pendekatan, program, dan inovasi yang dikembangkan FT UGM dalam mendukung pembangunan Zona Integritas.
Rombongan PENS terdiri atas enam orang, yaitu Ronny Susetyoko, S.Si., M.Si.; Mochammad Machmud Rifadil, S.ST., M.T.; Haris Ihsan Abadi, A.Md.T; Musthofa Syahid; Andri Suryandari, S.Sos., M.Med.Kom.; dan Esti Kusumawardani, A.Md. Dalam kunjungan tersebut, pemaparan materi disampaikan oleh Doni Agus Wijayanto, M.M., selaku Kepala kantor Administrasi FT UGM.
Dalam pemaparannya, Doni menjelaskan pembangunan dan implementasi Zona Integritas di FT UGM, yang ditetapkan sebagai unit percobaan Zona Integritas menuju WBK dan WBBM di lingkungan UGM, pemaparan ini memberikan gambaran mengenai upaya penguatan tata kelola, pelaksanaan program, dan pengembangan layanan yang mendukung pembangunan Zona Integritas di lingkungan fakultas.
Materi yang disampaikan mencakup enam area pembangunan Zona Integritas, yaitu manajemen perubahan, penataan tata laksana, penataan sistem manajemen sumber daya manusia, penguatan akuntabilitas kinerja, penguatan pengawasan, serta peningkatan kualitas pelayanan publik. Keenam area tersebut menjadi bagian penting dalam mendorong tata kelola organisasi yang efektif, akuntabel, transparan dan berorientasi pada pelayanan.
Selain membahas kerangka pembangunan Zona Integritas, FT UGM turut memperkenalkan sejumlah praktik baik dan inovasi yang dikembangkan di lingkungan fakultas. Salah satunya adalah Sentralisasi Administrasi Desentralisasi Akademik (SADA), aplikasi yang mendukung efisiensi dan transparansi layanan akademik. FT UGM juga mengembangkan Unit Layanan Terpadu (ULT) sebagai pusat pelayanan satu pintu bagi masyarakat kampus.
Inovasi lainnya meliputi TegakSHE+I, program dan aplikasi yang mendukung penerapan budaya Safety, Health, and Environment, + Integrity (SHE+I), serta Ambassador SHE dan Role Model sebagai penggerak budaya kerja. Dalam aspek kesejahteraan sivitas akademika, FT UGM turut menyediakan Wellbeing Centre dan pendampingan psikologi, serta menyelenggarakan layanan Posbindu dan donor darah. Berbagai inisiatif tersebut menjadi bagian dari upaya mendukung lingkungan kerja dan pembelajaran yang sehat, aman, serta berorientasi pada peningkatan kualitas layanan.
Sesi diskusi menjadi bagian penting dalam kunjungan benchmarking tersebut. Perwakilan PENS mengajukan sejumlah pertanyaan mengenai strategi pengelolaan waktu dan pemilihan personel dalam tim, upaya menjaga komitmen untuk mencapai target program, serta pengelolaan program kerja tahunan dalam kaitannya dengan pemenuhan komponen administratif pada Lembar Kerja Evaluasi (LKE) Zona Integritas. Diskusi juga menyoroti kriteria penentuan role model pimpinan, termasuk parameter yang digunakan untuk mengidentifikasi keunggulan dalam pembangunan Zona Integritas.
Menanggapi pertanyaan tersebut, FT UGM menjelaskan pendekatan pengelolaan kegiatan yang melibatkan tenaga kependidikan. Pembahasan turut menyinggung peran manajerial dengan pembagian tanggung jawab berdasarkan bidang masing-masing. Terkait penentuan role model, inovasi yang memberikan dampak menjadi salah satu parameter yang diperhatikan. Sementara itu, ketertiban dalam bekerja dipandang sebagai kebiasaan yang perlu diterapkan secara konsisten, bukan sekadar pemenuhan kewajiban administratif.
Melalui diskusi ini, PENS memperoleh penjelasan mengenai pendekatan yang diterapkan FT UGM dalam pengelolaan tim, pelaksanaan program, serta pengembangan inovasi untuk mendukung pembangunan Zona Integritas di lingkungan perguruan tinggi. Pertukaran informasi tersebut juga menjadi kesempatan untuk memahami praktik pengelolaan kelembagaan dan pelayanan yang dikembangkan di FT UGM sebagai bahan pembelajaran bagi institusi lain. FT UGM secara aktif menjadi lokasi benchmarking dan memberikan pendampingan pembangunan Zona Integritas bagi berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Melalui kegiatan ini, pengalaman dan praktik baik yang dikembangkan di FT UGM diharapkan dapat menjadi referensi bagi penguatan tata kelola kelembagaan, peningkatan akuntabilitas, serta pengembangan pelayanan publik di lingkungan pendidikan tinggi. (Luthfiah Azka Amira)