JEPARA — Pantai Bandengan bersiap naik kelas. Tim pengabdian kepada masyarakat Grup Riset GEOLIVE Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (FT UGM) memaparkan Rencana Induk Objek Daya Tarik Wisata Kawasan Pantai Bandengan dalam forum monitoring dan evaluasi di Kantor Bupati Jepara, Rabu (21/10/2026).
Forum ini dihadiri sekitar 25 peserta, mulai dari Sekretaris Daerah Kabupaten Jepara, serta perwakilan perangkat daerah seperti DPUPR, Bapperida, Diskominfo, dan Disparbud. Rencana induk ini dirancang untuk mengubah Bandengan dari pantai yang ramai musiman menjadi kawasan wisata alam, budaya, dan petualangan yang terintegrasi.
Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Kerja Sama FT UGM, Prof. Ali Awaludin menegaskan bahwa pengabdian bukan sekadar menjalankan program. Menurutnya, kegiatan ini adalah tanggung jawab akademik untuk menghadirkan ilmu dan teknologi yang menjawab kebutuhan nyata masyarakat. “Pengembangan destinasi wisata tidak cukup hanya mengandalkan keindahan alam. Diperlukan perencanaan yang terpadu, pemahaman terhadap potensi lokal, perhatian pada kelestarian lingkungan, serta keterlibatan para pemangku kepentingan,” ujarnya.

Selain rencana induk Pantai Bandengan, tim GEOLIVE juga mengembangkan model tiga dimensi interaktif Museum R.A. Kartini sebagai platform digitalisasi warisan budaya. Dua karya ini, kata Prof. Ali Awaludin, menunjukkan bahwa pengembangan wilayah, pelestarian budaya, dan teknologi bisa saling melengkapi. Ia juga mengingatkan bahwa ukuran keberhasilan bukan selesainya kegiatan. “Keberhasilan perlu dilihat dari sejauh mana hasilnya dapat dimanfaatkan, dikembangkan lebih lanjut, dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” tuturnya.
Mewakili Pemerintah Kabupaten Jepara, Sekretaris Daerah (Sekda) Ary Bachtiar, S.T., M.T., menyampaikan terima kasih atas dukungan FT UGM. Ia menyebut ketua tim, Dr. Ir. Bilal Ma’ruf, S.T., M.T., sebagai putra daerah yang sudah berkali-kali turun langsung ke Jepara. Menurut Ary, Jepara punya banyak potensi wisata, termasuk desa wisata. Namun, tantangannya adalah membuat destinasi unggulan benar-benar mendatangkan wisatawan berkualitas dan memperpanjang lama kunjungan. “Selama ini arah pengembangan wisata belum terarah dengan baik. Harapannya, wisata di Jepara betul-betul bisa menggerakkan ekonomi daerah, meningkatkan PAD, dan memperkuat UMKM,” katanya.
Kajian dimulai sejak Agustus 2026. Prof. Ir. Tarcicius Yoyok Wahyu Subroto, M.Eng., Ph.D., IPU., menjelaskan bahwa tim mewawancarai pelaku wisata, pemerintah desa, dan tokoh masyarakat, termasuk para petinggi atau kepala desa. Temuannya cukup gamblang. Kunjungan ke Bandengan sangat musiman, memuncak saat Lebaran, Natal, dan libur panjang. Abrasi di sisi barat pantai menjadi perhatian, dan manfaat ekonomi wisata belum merata dirasakan warga desa. Aktivitas wisatawan juga menumpuk di bibir pantai, sementara area selatan nyaris tak tersentuh. “Pantai Bandengan punya potensi yang sangat banyak, tetapi zonasi, wadah ruang, dan sistem pengelolaannya belum satu perahu,” ungkap Vino, mahasiswa Departemen Teknik Arsitektur dan Perencanaan (DTAP) yang memaparkan rencana induk.
Salah satu ide kuncinya sederhana tapi berdampak: parkir dipindah ke sisi taman bakau. Wisatawan tak lagi langsung parkir di bibir pantai, melainkan diajak menyusuri area selatan sehingga seluruh kawasan ikut hidup. Kawasan kemudian dibagi menjadi lima Sub-Wilayah Pengembangan (SWP), masing-masing dengan karakter berbeda. Pemilihan bambu untuk Eco Education Center bukan tanpa alasan. Jepara dikenal dengan kerajinan kayunya, tetapi industri kayu menghadapi persoalan keberlanjutan bahan baku, sehingga bambu ditawarkan sebagai jawaban. Semua itu dirangkum dalam narasi sejarah kawasan, dari jejak Sunan Nyamplungan, R.A. Kartini, hingga tradisi nelayan yang mengelola pantai secara mandiri. Bandengan juga diposisikan sebagai magnet utama yang saling melengkapi, bukan bersaing, dengan destinasi pesisir lain di sekitarnya. Rencana induk dilengkapi rencana aksi berjangka sepuluh tahun hingga 2036. Totalnya 61 program: 32 program jangka pendek, 23 jangka menengah, dan 6 jangka panjang, lengkap dengan skema pendanaan, aktor pelaksana, dan tahapan pengalihan pengelolaan kepada kelembagaan lokal. Skema open access dan konsesi menjadi langkah prioritas yang ditawarkan tim, dengan segmen MICE sebagai salah satu target pasar tertinggi.
Tema kedua justru lahir dari sebuah ajakan dadakan. Usai memaparkan hasil pemetaan Pantai Bandengan pada tahun pertama, tim GEOLIVE diajak Sekda dan jajaran dinas berkeliling pendopo yang akan dijadikan Museum R.A. Kartini. “Saat keliling itu kami berpikir, ini menarik untuk didokumentasikan. Tidak hanya dipajang, tapi didokumentasikan secara digital dan akurat dalam tiga dimensi.” ujar ketua tim, Dr. Ir. Bilal Ma’ruf, S.T., M.T.
Prosesnya melewati tiga tahap, yakni akuisisi data, pengolahan dan integrasi data, lalu pemodelan tiga dimensi. Pemindai yang digunakan berkelas medium dengan jangkauan hingga 350 meter, meski di lapangan tim tidak memakainya sejauh itu.
Hasilnya bukan foto biasa, melainkan model tiga dimensi presisi. Dari pemetaan udara, luas area diperkirakan 1.150 meter persegi dengan tinggi bangunan sekitar 8 meter pada bangunan satu lantai. Angka-angka ini masih perlu diverifikasi Pemkab Jepara. Pekerjaannya tidak ringan. Setiap ruang dipindai satu per satu sehingga menghasilkan data berukuran besar dan menuntut spesifikasi komputer tinggi. Pencocokan warna atap pada model dengan kondisi asli di lapangan saja memakan waktu cukup lama.
Sesi diskusi berlangsung aktif. Sejumlah perangkat daerah mengajukan pertanyaan terkait rencana induk dan menilai dokumen ini sebagai acuan yang baik dalam merencanakan pembangunan pariwisata Jepara. FT UGM berharap kerja sama dengan Pemkab Jepara terus berlanjut, baik melalui penelitian terapan, pendampingan inovasi teknologi, maupun kolaborasi lain sesuai kebutuhan daerah. Kekuatan kajian ini ada pada kolaborasi lintas disiplin. Analisis geospasial dari Departemen Teknik Geodesi memetakan tata ruang, massa bangunan eksisting, zonasi, hingga simpul jaringan jalan yang butuh intervensi prioritas. Departemen Teknik Arsitektur dan Perencanaan kemudian menerjemahkannya menjadi desain kawasan dan skenario implementasi.
Potensi dan masalah kawasan dibedah melalui lima dimensi, yakni ekologi, sosial, budaya, ekonomi, dan teknologi. Rencana induk juga mendorong pembangunan berbasis komunitas melalui penguatan UMKM, pelibatan Pokdarwis, kegiatan budaya lokal, dan peningkatan kapasitas SDM wisata. Model Bandengan disiapkan sebagai prototipe yang dapat direplikasi ke pantai-pantai lain di Jepara secara bertahap. (Opal/Humas FT)