Tim penelitian Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Eksakta (PKM-RE) berhasil mengembangkan katalis bifungsional berbasis limbah yang berpotensi meningkatkan produksi biodiesel dari minyak jelantah. Inovasi ini memanfaatkan limbah botol plastik PET dan cangkang telur sebagai bahan katalis berkinerja tinggi sekaligus mendukung transisi energi berkelanjutan.
Tim yang beranggotakan Ahmad Yafi Musyaffa, Ivo Albert Gabriel, Faiq Fadhlul Aziz, Marchellino Andrea Rendy Pratama, dan Ikbar Habibi, di bawah bimbingan Ir. Robertus Dhimas Dhewangga Putra, S.T., M.Eng., Ph.D. dari Fakultas Teknik UGM, mengembangkan penelitian berjudul “Inovasi Katalis Bifungsional N-Doped Carbon Dots Terenkapsulasi Ca-BDC dari Limbah Botol Plastik dan Cangkang Telur untuk Produksi Biodiesel Berbasis Jelantah”.
Melalui penelitian ini, limbah botol plastik PET diolah menjadi N-doped carbon dots (N-CDs), sementara cangkang telur dimanfaatkan sebagai sumber kalsium untuk membentuk metal-organic framework (Ca-BDC). Keduanya kemudian digabungkan menjadi nanokomposit bifungsional N-CDs@Ca-BDC yang mampu meningkatkan efisiensi proses produksi biodiesel.
Ketua tim Ahmad Yafi Musyaffa menjelaskan bahwa inovasi ini mampu mengatasi dua tantangan utama produksi biodiesel berbasis minyak jelantah. “Katalis baru yang kami rancang mampu bekerja ganda dalam satu material. Ini membuat proses pengolahan minyak jelantah menjadi biodiesel jauh lebih efisien karena bisa dilakukan sekaligus dalam satu
tahap, serta mengatasi masalah pembentukan sabun yang selama ini menghambat produksi biodiesel dari minyak jelantah,” ujar Yafi.
Pengembangan katalis ini menjadi solusi alternatif di tengah kebutuhan energi terbarukan yang semakin meningkat. Minyak jelantah Indonesia yang mencapai sekitar 1,2 juta kiloliter per tahun berpotensi menggantikan sebagian kebutuhan biodiesel nasional dengan biaya produksi dan emisi karbon lebih rendah dibandingkan biodiesel berbasis sawit.
Keunggulan N-CDs@Ca-BDC terletak pada kemampuannya menjaga situs aktif katalis, meningkatkan stabilitas reaksi, serta memungkinkan penggunaan ulang hingga tiga siklus. Selain itu, inovasi ini menerapkan konsep ekonomi sirkular dengan mengubah limbah PET berkandungan karbon tinggi dan cangkang telur kaya kalsium karbonat menjadi material bernilai tambah.
Penelitian yang berlangsung selama empat bulan ini dilakukan di tiga laboratorium UGM, yaitu Laboratorium Kimia Fisik Fakultas MIPA, Laboratorium Penelitian dan Pengujian Terpadu, serta Laboratorium Konversi Energi Fakultas Teknik. Tim menargetkan biodiesel yang dihasilkan memenuhi standar SNI 7182:2015 dengan rendemen minimal 84,5%.
Melalui inovasi ini, tim PKM-RE UGM berharap katalis berbasis limbah tersebut dapat menjadi langkah baru dalam pengembangan teknologi biodiesel yang lebih efisien, ramah lingkungan, dan mendukung percepatan energi terbarukan nasional.