Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (FT UGM) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung pembangunan berkelanjutan melalui pengembangan kurikulum Low-Carbon Building (LCB). Komitmen tersebut diwujudkan melalui keberhasilan FT UGM memperoleh hibah dari The ASEAN Centre for Energy (ACE) dalam program Enhancement of Low-Carbon Building (LCB) Curriculum in University Syllabus.
Program ini merupakan bagian dari upaya regional ASEAN dalam mendorong transisi menuju pembangunan rendah karbon dan pencapaian target net zero emissions. Dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, hanya tiga universitas yang berhasil memperoleh hibah tersebut, dan FT UGM menjadi salah satu penerimanya.
Dr. Yani Rahmawati selaku ketua tim proyek tersebut menegaskan bahwa capaian ini merupakan hasil kerja kolektif seluruh tim yang terlibat dari berbagai departemen di FT UGM, “Ini kerja keras seluruh anggota tim, dengan dukungan penuh dari Pak Dekan FT UGM” ujarnya (25/5/2026). Dalam tim juga terlibat Dr Nur Abdillah Siddiq sebagai wakil ketua dan Prof Ali Awaluddin sebagai advisor.
The ASEAN Centre for Energy (ACE) merupakan organisasi antarpemerintah yang mewakili kepentingan 11 negara anggota ASEAN di sektor energi. Melalui berbagai kolaborasi regional, ACE mendorong pengembangan kebijakan dan inovasi untuk mendukung efisiensi energi serta pembangunan rendah karbon di kawasan ASEAN.
Dr Yani menjelaskan bahwa salah satu tujuan utama program ini adalah untuk menyusun materi pembelajaran berbasis Massive Open Online Course (MOOC) yang dapat diimplementasikan dalam mata kuliah yang relevan dalam prodi-prodi sarjana di FT untuk mendukung terealisasinya kurikulum berbasis low-carbon building.
Saat ini FT UGM tengah melakukan pemetaan secara detail terhadap mata kuliah yang berkaitan dengan konsep bangunan rendah karbon di berbagai program studi sarjana, seperti Arsitektur, Teknik Sipil, Teknik Mesin, Teknik Elektro, dan Teknik Fisika.
“Sebagai langkah awal kita ingin melihat gap pembelajaran di kampus melalui mata kuliah pada prodi-prodi tersebut dengan modul yang dikembangkan oleh ACE dan implementasi di industri terkait penerapan LCB. Hasil dari pemetaan awal akan bermanfaat sebagai dasar dalam pengembangan materi dan modul pembelajaran, terutama dalam mengembangkan model assessment atau evaluasi melalui pengembangan studi kasus dari proyek dan riset di FT UGM dan di industri terkait. Selain itu juga diharapkan menjadi dasar pengembangan kurikulum yang lebih relevan dengan kebutuhan industri dan tantangan pembangunan masa depan.
Pengembangan MOOC diharapkan agar materi terkait low-carbon building juga dapat diakses secara luas oleh masyarakat.
“Nantinya, MOOC akan dapat diakses oleh semua orang,” kata Dr. Yani.
Dr. Yani menyebutkan bahwa proses produksi MOOC direncanakan dimulai pada Agustus tahun ini dan ditargetkan dapat diakses publik pada Februari tahun depan.
“Sebelum memproduksi MOOC, kita akan petakan konten utama dari modul tersebut dengan mata kuliah dan topik per mingguan seperti apa,” jelasnya.
Tidak hanya itu, pengembangan kurikulum juga harus mempertimbangkan standar akreditasi pendidikan tinggi nasional dan internasional. Oleh karena itu, berbagai workshop dan Focus Group Discussion (FGD) akan dilaksanakan bersama dosen, akademisi, serta praktisi industri.
“Kami akan mengundang praktisi industri untuk mengetahui permasalahan yang sedang dan akan terjadi, sehingga apa yang kita rencanakan saat ini dapat bermanfaat untuk jangka panjang,” tambahnya.
Upaya pengembangan kurikulum LCB ini sejalan dengan berbagai langkah FT UGM yang sebelumnya telah bergerak menuju pembangunan berkelanjutan, mulai dari riset-riset efisiensi energi bangunan hingga kampanye perubahan perilaku di lingkungan kampus.
Lebih jauh, Dr. Yani menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran penting sebagai motor penggerak perubahan menuju masa depan yang lebih berkelanjutan.
“Dorongan sangat kuat, kita sebagai akademisi menjadi motor penggerak adanya perubahan. Kita punya tugas mendidik,” tegasnya.
Melalui pengembangan kurikulum Low-Carbon Building ini, FT UGM berharap dapat melahirkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kesadaran serta kompetensi dalam mendukung pembangunan rendah karbon di Indonesia maupun kawasan ASEAN.