Mineral logam tanah jarang atau Rare Earth Elements (REE) kini semakin menempati posisi strategis dalam peta industri global. Mineral ini menjadi komponen penting dalam mesin jet pesawat tempur dan pesawat komersial, sistem senjata rudal, hingga berbagai perangkat teknologi modern. Tak hanya di sektor pertahanan, REE juga digunakan dalam industri elektronik, sistem pendeteksi bawah laut, pertahanan antirudal, perangkat pelacak, pembangkit energi satelit, serta sistem komunikasi mutakhir. Singkatnya, mineral ini berada di balik banyak teknologi yang menopang kehidupan modern dan keamanan nasional.
Dosen Departemen Teknik Geologi, Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Eng. Ir. Lucas Donny Setijadji, S.T., M.Sc., menjelaskan bahwa riset REE di Indonesia sejatinya telah berlangsung cukup lama. Lucas sendiri mulai meneliti mineral ini sejak 2008 melalui proyek kerja sama Indonesia–Jepang yang didanai JICA. Menurutnya, di kalangan akademisi, REE bukanlah isu baru, melainkan bagian dari perjalanan riset panjang yang terus berkembang.
“Sebenarnya di kalangan peneliti, mineral ini bukan isu baru, tetapi perjalanan riset yang panjang,” ungkapnya, Senin (18/2).
Lucas menyebutkan, momentum global terhadap REE semakin menguat ketika China membatasi ekspor komoditas tersebut, dengan kebijakan awal diberlakukan pada 4 April 2025. Langkah ini memicu kekhawatiran negara-negara industri, terutama Jepang, yang sangat bergantung pada pasokan REE untuk sektor teknologi dan manufaktur. Sejak saat itu, eksplorasi dan penelitian logam tanah jarang digencarkan di berbagai belahan dunia. Jepang bahkan tampil sebagai salah satu motor utama pendanaan riset, termasuk di kawasan ASEAN dan Afrika.
Meski Indonesia disebut memiliki cadangan REE yang menjanjikan, Lucas menegaskan bahwa potensi tidak otomatis berarti kesiapan produksi. Tantangan terbesar, menurutnya, bukan terletak pada ketersediaan cadangan, melainkan pada penguasaan teknologi ekstraksi. Hal ini dikarenakan, REE umumnya berasosiasi dengan unsur radioaktif dan memiliki karakter mineralogi yang berbeda di setiap lokasi. Kondisi ini menuntut metode pengolahan yang sangat spesifik, berpresisi tinggi, dan disesuaikan dengan karakter geologi masing-masing wilayah.
Untuk mendorong pengembangan mineral strategis tersebut, pemerintah membentuk Badan Industri Mineral (BIM) sebagai penggerak riset dan hilirisasi. Sejauh ini, pemerintah telah mengidentifikasi delapan blok utama di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Bangka Belitung, serta menemukan 28 wilayah lain yang dinilai prospektif untuk dikembangkan.
Salah satu daerah yang kini menjadi sorotan adalah Mamuju, Sulawesi Barat. Wilayah ini disebut sebagai kawasan paling prospektif dan direncanakan menjadi lokasi pilot project hilirisasi REE nasional. UGM memiliki rekam jejak penelitian yang kuat di kawasan tersebut.
“Awalnya daerah ini diteliti karena anomali radioaktif oleh BATAN. Dalam perjalanannya, diketahui bahwa kandungan logam tanah jarangnya termasuk yang tinggi di Indonesia,” jelas Lucas.
Kontribusi perguruan tinggi seperti UGM sejak tahap awal eksplorasi menjadi bagian penting dalam proses pengembangan REE nasional. Harapannya, dengan sinergi kebijakan, riset, dan teknologi, Indonesia tidak hanya menjadi pemilik potensi, tetapi juga mampu mengolah dan memanfaatkan logam tanah jarang secara mandiri dan berkelanjutan di masa depan. (Humas FT: Radaeva)
Artikel ini disadur dari pemberitaan di laman resmi Universitas Gadjah Mada.