Di tengah darurat narkoba yang mengancam generasi bangsa, upaya pemulihan seringkali belum mampu menyentuh akar masalah yang sesungguhnya. Menjawab tantangan ini, sebuah tim mahasiswa dari Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) mengembangkan prototipe NeoSemar, sebuah sistem terpadu yang dirancang untuk mengintervensi langsung pada pusat kendali otak.
Tim PKM bidang Karsa Cipta (PKM-KC) ini terdiri dari Melvino Rizky Putra Wahyudi, Dhimas Setya Adi Nugraha, Muhammad Basel Fawaz Sigit, Reza Hanif Firmansyah, dan Putri Eka Desintha, di bawah bimbingan dari Ridwan Wicaksono, S.T., M.Eng., Ph.D. Melalui judul “NeoSemar: Sistem Terpadu Pemulihan Kecanduan Narkoba dengan Transcranial Magnetic Stimulation (TMS) Berbasis Pemantauan Electroencephalography (EEG)”, prototipe ini diharapkan mampu menjadi alat bantu terapis yang efektif dan aman bagi para pecandu narkoba.
Melvino Rizky Putra Wahyudi, selaku ketua tim, menjelaskan bahwa NeoSemar merupakan langkah maju dalam pemanfaatan teknologi untuk rehabilitasi. “NeoSemar mengintegrasikan fungsi pemindaian aktivitas otak melalui EEG dan fungsi terapi dengan TMS dalam satu alat. Data aktivitas otak pasien dipindai dan hasilnya akan terhubung dengan sistem Internet of Things (IoT), sehingga tenaga medis dapat meninjau hasilnya melalui situs web. Berdasarkan data tersebut, alat ini akan memberikan stimulasi elektromagnetik yang presisi untuk menyeimbangkan kembali fungsi otak pasien,” jelas Melvino.
Ide ini berangkat dari fakta yang mengkhawatirkan. Menurut data Badan Narkotika Nasional (BNN) pada 2023, sekitar 3,3 juta penduduk Indonesia terlibat dalam penyalahgunaan narkotika. Lebih dari sekadar angka, kecanduan secara fundamental mengubah fungsi otak. Sirkuit penghargaan (reward system), yang mengatur motivasi dan kontrol diri, terganggu secara signifikan, sehingga metode rehabilitasi konvensional seringkali menghadapi tantangan dalam mencegah kekambuhan.
NeoSemar hadir sebagai solusi alternatif yang memungkinkan terapi non-invasif atau tanpa prosedur bedah. Sistem ini bekerja dengan pendekatan dua langkah yang presisi. Pertama, Electroencephalography (EEG) digunakan sebagai alat pemindai untuk memetakan area otak yang mengalami disfungsi akibat adiksi. Setelah area target teridentifikasi, Transcranial Magnetic Stimulation (TMS) akan mengirimkan gelombang elektromagnetik terarah untuk menstimulasi dan membantu memulihkan sirkuit otak yang bermasalah.
Saat ini, pengembangan masih berfokus pada pembuatan prototipe fungsional. HDengan pendekatan yang menargetkan langsung ke sumber neurologis, NeoSemar diharapkan tidak hanya menjadi pelengkap terapi yang ada, tetapi juga menjadi terobosan penting dalam upaya penanggulangan narkoba, sekaligus mendukung visi besar mewujudkan generasi emas Indonesia 2045.
Tulisan dan Dokumentasi: Tim PKM-KC UGM NeoSemar
Anggota Tim:
1. Melvino Rizky Putra Wahyudi,
2. Dhimas Setya Adi Nugraha,
3. Muhammad Basel Fawaz Sigit,
4. Reza Hanif Firmansyah, dan
5. Putri Eka Desintha,
Dosen Pembimbing: Ridwan Wicaksono, S.T., M.Eng., Ph.D.