
Pada 2 hari pertama, para peserta telah mengenal budaya Indonesia lebih jauh dengan berkunjung ke situs budaya dan mendapatkan perkuliahan mengenai batik Indonesia. Namun tak afdal rasanya, jika tidak berkunjung dan mencoba membuat langsung ke tempat pembuatannya.
Untuk itu, keesokan harinya, Selasa (25/02), 19 partisipan dari University of Dundee berkunjung ke Batik Butimo untuk mengaplikasikan desain batik digital yang telah mereka buat kemarin. Sampai di sana, peserta mengunggah desain batiknya ke situs web untuk diproduksi menggunakan mesin batik. Setelah itu, peserta dibagi menjadi 3 kelompok dengan rincian kegiatan: berkeliling plant area, membatik menggunakan cap, dan membatik menggunakan canting.

Kelompok yang berkeliling plant area difokuskan pada proses produksi batik menggunakan mesin. Sementara itu, kelompok yang membatik menggunakan canting memulai proses dengan membuat pola di selembar kain menggunakan pensil. Selanjutnya, mereka mulai membatik dengan dampingan ibu-ibu pekerja di Batik Butimo. Motif yang mereka buat cukup beragam, seperti abstrak, geometri, dan flora.
Tak mau ketinggalan, setiap peserta dari kelompok terakhir diberikan selembar kain untuk praktik membuat batik cap. Didampingi pegawai Butimo, mereka diajarkan untuk mencap batik mereka dengan cap yang sudah disediakan agar hasilnya bisa lurus dan malamnya tidak terlalu banyak meluber di kain mereka.
Seharian di Batik Butimo, para peserta terlihat penasaran dan terkesan dengan mesin yang digunakan untuk membatik. Mereka juga bersemangat dan senang ketika bisa menghasilkan batik yang rapi pada kain mereka.
Rampung menjelajahi batik di hari sebelumnya, pada hari ini, Rabu (26/02), peserta menyambangi Gamaindigo untuk mewarnai batik yang mereka buat kemarin dan mewarnai syal dengan metode tie-dye. Pewarna alami yang digunakan adalah pewarna indigo, merbau, dan tingi. Mereka mencelupkan batik hasil buatan mereka ke pewarna secara mandiri dan terlihat antusias saat mewarnainya.
Destinasi selanjutnya adalah Malioboro dengan tujuan pertama peserta adalah Hamzah Batik. Mereka melihat-lihat dan membeli banyak oleh-oleh, terutama batik, untuk mereka bawa ke Skotlandia. Setelah dari sana, mereka dibebaskan untuk berkeliling Malioboro untuk mencari inspirasi untuk tugas mereka.

Tujuan terakhir hari ini adalah Lemospires, yaitu sebuah studio ecoprint yang terletak di Kecamatan Umbulharjo. Setibanya di lokasi, peserta disambut hangat oleh Owner Lemospires, Pak Putu. Mereka melihat-lihat produk ecoprint di sana dan bertanya terkait proses pembuatan hingga finishing ecoprint.
Setelah itu Pak Putu mendemonstrasikan cara membuat ecoprint pada sehelai kain, kemudian peserta diminta untuk turut berpartisipasi dalam menata daun-daun yang digunakan untuk ecoprint. Selepas demonstrasi, peserta kembali masuk ke dalam studio dan membeli beberapa produk dari Lemospires.

Tak terasa, hari terakhir kunjungan mereka telah tiba. Untuk mengawali hari terakhir (27/02), peserta mengunjungi Dowa Knitting Factory. Setibanya di lokasi, peserta diajak berkeliling pabrik dan melihat proses produksi tas yang ada di sana bersama manajer dan owner dari Dowa. Setelah mengelilingi pabrik, mereka mendapat penjelasan mengenai sejarah dan cerita dibalik produk-produk Dowa oleh pemiliknya secara langsung. Setelah itu, peserta melihat produk-produk tas yang ada di showroom. Beberapa dari mereka membeli produk Dowa untuk mereka sendiri ataupun sebagai oleh-oleh bagi keluarga mereka.
Puas berkunjung di Dowa Knitting Factory, peserta melenggang menuju Gamaindigo untuk melakukan proses melorod—proses menghilangkan lapisan malam pada batik mereka. Setelah proses melorod, kain batik mereka dibilas menggunakan air bersih lalu dijemur. Mereka sangat senang dengan hasil batik dan tie-dye yang mereka buat selama 3 hari ini. Di akhir sesi, peserta berfoto bersama dengan menunjukkan tie-dye dan batik yang mereka buat.
Setelah 5 hari menyelami budaya Indonesia, peserta datang ke UC Hotel UGM untuk mengikuti closing dinner. Kegiatan berjalan lancar dan dihadiri oleh pihak Teknik, OIA UGM, serta Prof Edia dan Prof Aswati. Salah satu peserta sempat menyampaikan kesannya selama mengikuti kegiatan dan dia sangat senang dan dapat belajar banyak mengenai batik selama di Jogja.
Mereka sangat senang bisa belajar mengenai batik dan banyak hal lainnya selama berada di Indonesia. Secara keseluruhan, kegiatan ini berjalan dengan lancar dan penuh antusiasme. Kunjungan ini diharapkan dapat mempererat hubungan budaya dan akademik antara Universitas Gadjah Mada dan University of Dundee, serta membuka peluang kerja sama lebih lanjut di masa mendatang.