Tim KawanIsyarat meraih Cactus Prize dalam The Gemma 4 Good Challenge 2026, kompetisi internasional yang diselenggarakan oleh Google DeepMind melalui platform Kaggle pada 2 April–18 Mei 2026. Tim ini mengembangkan aplikasi Android berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk membantu komunikasi dua arah antara masyarakat Tuli pengguna Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) dan masyarakat dengar.
Tim KawanIsyarat terdiri atas Pradana Yahya Abdillah, mahasiswa Teknologi Informasi UGM angkatan 2023 sebagai ketua tim; Maulana Isqi Habibah, mahasiswa Ilmu Keperawatan angkatan 2023; serta Muhammad Ghozy Wira Elmada dari SLB-B YAAT Klaten. Dalam kompetisi tersebut, tim memperoleh Cactus Prize, salah satu penghargaan pada kategori Special Technology Track, dengan hadiah sebesar US$10.000.
The Gemma 4 Good Challenge 2026 mencatat 14.523 peserta (entrants) dan lebih dari 1.600 submission dari berbagai negara. Di tengah persaingan tersebut, KawanIsyarat menawarkan pemanfaatan AI yang berfokus pada aksesibilitas komunikasi bagi masyarakat Tuli.
KawanIsyarat dirancang untuk membantu menjembatani komunikasi antara pengguna BISINDO dan masyarakat dengar melalui aplikasi yang dapat dijalankan langsung pada smartphone. Dengan pendekatan offline-first dan on-device AI, pemrosesan utama dilakukan pada perangkat tanpa harus selalu terhubung ke internet.
Aplikasi ini memanfaatkan model Gemma 4 E2B yang dijalankan secara lokal menggunakan Cactus. Kamera smartphone digunakan untuk menangkap gerakan bahasa isyarat, kemudian informasi gerakan tersebut diproses untuk membantu menghasilkan kalimat Bahasa Indonesia yang lebih natural. Sebaliknya, ucapan masyarakat dengar dapat dikonversi menjadi teks untuk mendukung komunikasi dua arah.
Salah satu aspek teknis yang menjadi perhatian dalam pengembangan KawanIsyarat adalah memory-aware model routing. Mekanisme ini memungkinkan sistem memuat model Whisper ketika diperlukan untuk mengubah ucapan menjadi teks, kemudian melepasnya kembali agar sumber daya memori dapat digunakan oleh Gemma. Tim juga mengoptimalkan latensi, termasuk dengan menonaktifkan thinking mode, untuk meningkatkan responsivitas model pada perangkat mobile.
Dalam publikasi resmi Google mengenai para pemenang Gemma 4 Good Challenge, KawanIsyarat ditampilkan secara khusus pada bagian “Cactus Prize: KawanIsyarat”. Para juri mengapresiasi pendekatan memory-aware model routing serta optimasi latensi yang dikembangkan tim untuk memungkinkan pemrosesan secara real-time pada perangkat mobile.
Pencapaian ini menunjukkan potensi pengembangan AI yang tidak hanya berfokus pada kemampuan teknis, tetapi juga pada kebutuhan aksesibilitas. Melalui KawanIsyarat, tim berupaya menghadirkan teknologi yang dapat membantu memperluas akses komunikasi bagi masyarakat Tuli pengguna BISINDO sekaligus lebih mudah digunakan pada perangkat dengan sumber daya terbatas.
Ke depan, tim berharap KawanIsyarat dapat terus dikembangkan agar semakin andal, ringan, dan mudah digunakan. Pengembangan AI yang berjalan langsung pada perangkat juga diharapkan dapat mendukung privasi pengguna sekaligus memperluas pemanfaatan teknologi untuk menjawab kebutuhan masyarakat.