
Yogyakarta, 29 Juli 2025 — Sebagai bagian dari upaya akselerasi transformasi digital, Biro Transformasi Digital (BTD) dan Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) menggelar kegiatan sosialisasi program UGM CORE, yang mengedepankan pengelolaan Enterprise Architecture (EA) untuk membangun ekosistem kampus digital yang terintegrasi, efisien, dan adaptif terhadap kebutuhan zaman. Kegiatan ini dihadiri oleh berbagai perwakilan unit kerja, mulai dari bidang pendidikan, keuangan, SDM, aset, hingga pengadaan.
Kegiatan dibuka dengan pemaparan dari Tim EA UGM yang menjelaskan secara menyeluruh mengenai konsep dasar dan pentingnya Enterprise Architecture sebagai kerangka strategis dalam menyatukan proses bisnis, teknologi informasi, dan kebutuhan pengguna. Pemahaman dasar ini sangat penting untuk memastikan bahwa semua unit di universitas dapat bekerja sama secara efektif menuju tujuan bersama.
Selanjutnya, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi lintas unit yang bersifat partisipatif. Setiap perwakilan unit diberi ruang untuk menyampaikan berbagai tantangan yang mereka hadapi dalam penggunaan sistem aplikasi yang ada. Isu yang mengemuka di antaranya adalah proses manual yang masih dominan, keterbatasan akses aplikasi, dokumen digital yang tidak sinkron, serta kebutuhan integrasi lintas sistem agar tidak terjadi duplikasi data dan kesalahan informasi.
Dedi Eko Yunanto Priyadi, S.T. selaku Ketua Tim Kerja System Engineer Biro Transformasi Digital dari BTD menjelaskan bahwa EA UGM dibangun melalui pendekatan Collaborative Open Resource Enterprise (CORE) yang menekankan pentingnya sinergi antar unit kerja dalam merancang sistem berbasis kebutuhan nyata. Siklus pengembangan bisnis yang sistematis—mulai dari pemetaan proses, analisis progres, hingga perancangan solusi—menjadi prinsip utama dalam pengembangan teknologi kampus.
Tim EA juga turut serta dalam sesi diskusi mendalam untuk memotret langsung dinamika, kekhasan proses bisnis, serta kebutuhan spesifik yang muncul di lapangan. Bidang pendidikan, misalnya, menyampaikan tantangan dalam pengelolaan data alumni, pembuatan transkrip dalam dua bahasa, serta ketidakfleksibelan fitur pada sistem tugas akhir. Keluhan juga datang dari unit administrasi dan keuangan terkait keterbatasan akses dan tidak terhubungnya sistem fakultas dengan sistem universitas.
Kegiatan ini menjadi langkah awal dalam membangun fondasi transformasi digital yang kuat dan berkelanjutan di Fakultas Teknik UGM. Masukan yang diperoleh dari setiap unit akan dijadikan bahan evaluasi dan pengembangan sistem berbasis EA ke depannya. Harapannya, seluruh proses administrasi dan layanan akademik dapat terintegrasi secara digital tanpa lagi bergantung pada dokumen fisik atau file terpisah seperti MS Word.
Melalui semangat kolaborasi ini, Fakultas Teknik UGM optimis mampu menciptakan lingkungan kerja yang cerdas, transparan, dan efisien. Sosialisasi UGM CORE bukan hanya menjadi forum teknis, tetapi juga ruang bersama untuk membangun kesepahaman dan komitmen dalam menyongsong transformasi digital di lingkungan pendidikan tinggi.
Sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya dalam bidang pendidikan untuk keberlanjutan, inisiatif ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan efisiensi administrasi. Dengan memanfaatkan teknologi dan mendorong kolaborasi, UGM membuka jalan menuju lanskap pendidikan yang lebih berkelanjutan dan inovatif.
Seiring perjalanan transformasi digital ini, UGM tetap berkomitmen untuk memastikan bahwa semua pemangku kepentingan terlibat dan suara mereka didengar. Pendekatan inklusif ini tidak hanya akan meningkatkan kemampuan operasional universitas tetapi juga berkontribusi pada masa depan yang lebih berkelanjutan bagi pendidikan di Indonesia. (Humas FT)