Pada Jumat, 11 September 2026, Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (FT UGM) melaksanakan kegiatan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Pengabdian kepada Masyarakat di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Cebongan, Sleman. Kegiatan ini bertujuan untuk mengevaluasi pelaksanaan program pengabdian kepada Masyarakat. Dr. Nur Abdillah Siddiq, selaku Manajer Pengabdian kepada Masyarakat dan Alumni Fakultas Teknik UGM, menyampaikan bahwa kegiatan monitoring dan evaluasi merupakan bagian penting untuk memastikan kualitas program pengabdian kepada masyarakat yang diselenggarakan oleh Fakultas Teknik UGM.
“Melalui monitoring dan evaluasi ini, kami ingin melihat sejauh mana kualitas dan kebermanfaatan program pengabdian yang telah dilaksanakan. Praktik-praktik baik yang ditemukan diharapkan dapat diadopsi di tempat lain, didokumentasikan, dan selanjutnya dibukukan sehingga dapat menjadi referensi untuk implementasi program pengabdian masyarakat secara lebih luas,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Lapas Kelas IIB Cebongan, Tri Mulyono, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Fakultas Teknik UGM yang telah melaksanakan berbagai program pengabdian serta pelatihan bagi warga binaan.
“Kami menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya kepada Fakultas Teknik UGM yang telah menyelenggarakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat dan pelatihan bagi warga binaan. Kegiatan ini sangat membantu kami dalam upaya pemberdayaan warga binaan dan juga selaras dengan arahan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, khususnya dalam mendukung ketahanan pangan,” ungkap Tri Mulyono. Ia berharap sinergi antara FT UGM dan Lapas Kelas IIB Cebongan dapat terus dikembangkan melalui berbagai program yang memberikan manfaat bagi warga binaan.
Dalam kegiatan tersebut, terdapat dua program pengabdian kepada masyarakat yang menjadi fokus monitoring dan evaluasi, yaitu “Pemberdayaan Warga Binaan melalui Pembuatan Wastra Jumputan Berkelanjutan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Sleman” serta “Budidaya Maggot Berbasis Sensor untuk Pengolahan Sampah Organik di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Sleman.”
Program Wastra Jumputan Berkelanjutan telah dilaksanakan sejak tahun 2024. Setiap pelaksanaan kegiatan melibatkan sekitar 20 warga binaan dan 10 petugas Lapas. Teknik jumputan dipilih karena relatif mudah dipelajari dan dipraktikkan oleh warga binaan, sekaligus memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi. Hasil produksi wastra jumputan tidak hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan internal Lapas, seperti pembuatan seragam petugas, tetapi juga telah dikembangkan untuk dipasarkan sehingga dapat memberikan nilai tambah dan menjadi salah satu bentuk pemberdayaan keterampilan bagi warga binaan.
Sementara itu, program Budidaya Maggot dilaksanakan melalui penyediaan peralatan, pelatihan awal budidaya maggot, serta pendampingan secara berkala. Program ini diarahkan untuk mendukung pengolahan sampah organik sekaligus nantinya akan dilengkapi dengan teknologi sensor untuk menjaga suhu pada pengelolan magot secara real time. Hasil budidaya maggot selanjutnya dimanfaatkan sebagai pakan ikan, sementara pupa hasil pengolahan dimanfaatkan sebagai pupuk untuk kebun di lingkungan Lapas. Dengan demikian, program ini tidak hanya mendukung pengelolaan sampah organik, tetapi juga berkontribusi terhadap pengembangan kegiatan ketahanan pangan di lingkungan Lapas (Penulis: Aci Prima Sari).